Khajima….!!! (Oneshot)
SAYA BUKAN AUTHOR DARI FF INI .
SAYA HANYA MENGSHARE FF
Title: Khajima… (One Shoot)
Genre: Horor? Romance
Character:
- Park Hyun Min
- Kim Hyun Joong
- Kim Hye Li
Author P.O.V
Di pagi hari yang cerah nan indah,
dimana seluruh masyarakat Seoul sangat menikmati pagi ini. Cuaca yang mendukung
benar-benar membuat semua orang semangat menjalani aktivitasnya masing-masing.
Tapi tidak bagi yeoja yang sedang terburu-buru agar sampai ke sekolah tepat pada
waktunya. Park Hyun Min. Hyun Min selalu saja terlambat.
“Haish! Kenapa bis ini lama sekali
sih?!” gerutu Hyun Min. Sesekali ia melirik jam arloji yang terpasang di tangan
sebelah kirinya.
“Hah! Eothokaji?! 10 menit lagi
gerbang sekolah akan di tutup!” Hyun Min menepuk jidatnya sedikit kuat dan
membuat bulatan merah di keningnya.
Berpikir selama beberapa detik, ia
memutuskan untuk berlari dari halte sampai sekolahnya. Untungnya ia mengetahui
jalanan sempit yang bisa ia lewati agar cepat sampai di sekolah. Iapun
menyusuri gang-gang kecil dan beberapa rumah-rumah yang sudah tidak
berpenghuni.
BUUKK!! BUUKK!
Sebuah suara menghentikan langkah
Hyun Min. Ia memperjelas pendengarannya.
“Aaahhh~” rintihan suara namja
mengagetkannya. Kini langkahnya mengikuti sumber suara yang berasal dari rumah
kosong. Sesekali ia mengintip keadaan disana.
Alangkah kagetnya Hyun Min, ia
melihat seorang namja yang tergeletak tidak berdaya di antara namja-namja
bertubuh besar. Kakinya melemas seketika saat Hyun Min melihat mata namja yang
di pukuli itu melihatnya. Mata yang penuh dengan darah.
“Bos, sepertinya urusan kita
dengannya selesai! Dia sudah mati!” seru seorang namja.
“Bagus! Kalau begitu ayo pergi!” kata
namja yang satu lagi. Hyun Min langsung mengambil langkah seribu meninggalkan
tempat itu.
Jantungnya masih berdegup kencang.
Dia ingin membantu namja itu, tapi kalau ia membantunya, ia akan terlambat.
Sehingga ia memutuskan untuk tetap pergi dari tempat itu.
***
Hyun Min P.O.V
Apa tindakanku tadi salah ya? Apa aku
berdosa? Haish! Kenapa aku harus melihat itu tadi?! Jeongmal pabboya!
“Yaa! Hyun Min~a! No waeyo?” seru
chinguku Hye Li.
“Aniyo~ gwenchana,” jawabku
berbohong.
“Gotjimal! Marabwa!” suruhnya. Hye Li
memang susah di bohongi. Atau memang aku yang tidak bisa berbohong? Halah!
“Tadi, aku …” kata-kataku terhenti
seketika.
“Wae?”
“Tadi aku melihat seseorang dipukuli
hingga… meninggal,” jawabku takut.
“Lalu? Apa yang kau lakukan?”
tanyanya.
“Aku lari,” jawabku lagi dengan
tampang tak berdosaku.
“Haish! Jinjja! No pabboya! Kenapa
kau tidak menolongnya! Kalau benar namja itu mati, kau pasti akan di ikutinya!”
seru Hye Li menakutiku.
“Yaa! Mati! Meninggal tau! Kau pikir
dia hewan apa?!” balasku.
“Yah, terserahlah apa itu namanya.
Memang kenapa dia bisa dipukuli?”
“Mollayo~ Aku hanya mendengar
seseorang berbicara ‘Bos, urusan kita dengan dia sudah selesai. Dia sudah
mati!’ seperti itu dia bilang,” jelasku.
“Wah-wah-wah… Sepertinya kau salah.
Kenapa kau tidak memanggil orang-orang untuk membantunya?” selidik Hye Li.
“Yaa! Disana itu sangat sepi. Mana
ada orang yang lewat. Kalau aku berteriak, yang ada aku juga ikut mati disana!”
balasku padanya.
“Geuraeyo? Hemm, sudahlah. Tapi nanti
malam kau hati-hati saja ya. Mungkin saja arwah namja tadi itu ada di sampingmu
dan mengganggumu. Hihihihi~” Hye Li berlari saat melihat aku sudah memegang
sepatuku yang mulus dan siap untuk melemparnya.
“Dasar yeoja kurang kerjaan!!”
rutukku.
Saat pulang sekolah, kata-kata Hye Li
tiba-tiba terngiang di telingaku. Dan seketika bulu kudukku berdiri. Omo~
“Haish! Andwe! Mana mungkin seperti
itu! Aku tidak ada sangkut pautnya dengan urusan tadi!” kataku sembari
menggelengkan kepalaku kencang.
‘Hyun Min~a…’ panggil seseorang. Aku
melihat kebelakang. Tapi tidak ada orang sama sekali. Yang ada hanya kucing
sambil mengeong. Ehm? Apa mungkin dia yang memanggilku?
“Nuguya?” tanyaku. Tapi tidak ada
jawaban. Aku tidak terlalu menanggapinya. Kulanjutkan perjalananku.
‘Hyun Min~a…’ lagi-lagi aku mendengar
suara yang memanggilku.
“Yaa! Nuguya?!” tanyaku setengah berteriak.
Seketika bulu kudukku berdiri.
“Haish! Jangan main-main denganku!
Keluarlah!” seruku. Tapi hanya desiran angin yang menerpa wajahku. Pikiranku
langsung melayang dengan kata-kata Hye Li tadi. Apa mungkin, namja tadi?
“Eomma!!” teriakku sembari masuk ke
dalam rumah.
“Waeyo Hyun Min~a?” tanya eommaku.
“Ani, ehm, gwenchana eomma,” jawabku
sembari mengatur napasku.
“Kau mau makan tidak?”
“Ani, aku sudah kenyang eomma. Aku
tidur duluan ya. Aku lelah,” jawabku sambil berjalan meninggalkan eommaku.
Malam ini aku mempunyai tugas yang
banyak dari Minchi songsenim. Ia menugasi murid-muridnya untuk membuat karya
tulis lalu di kumpulkan besok juga. Hfft! Bisa gila aku lama-lama.
Saat aku melihat jam di dinding
kamar, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hooaamm!! Benar-benar ngantuk.
Tok! Tok! Tok!
Aku di kagetkan dengan ketukan kamar.
Sudah jam segini, siapa yang mengetuk pintu? Sedangkan lampu di luar sudah di
matikan.
“Nuguya?” tanyaku sembari jalan
menuju pintu. Tidak ada jawaban dari luar.
Ceklek! Ku buka gagang pintu dan
melihat ke luar kamar. Tidak ada siapun. Hanya gelap dan sepi. Seketika bulu
kudukku berdiri dan segera ku tutup lagi pintu. Aku berlari ke atas tempat
tidur dan menutup seluruh tubuhku sedangkan komputerku masih dalam keadaan
hidup. Eotthoke?
Entah itu khayalan atau kenyataan,
aku melihat bukuku melayang sendiri dan juga pulpenku. Omo~
“Eomma…!!” rintihku ketakutan.
Sekarang, komputerku menuliskan sebuah kata-kata yang entah siapa menulisnya.
‘ANNYEONG PARK HYUN MIN..! KAU INGAT
DENGANKU??’
“Nuguseo?” tanyaku. Pikiranku
langsung berputar kepada sosok namja yang tadi pagi aku lihat. Atau mungkin??
“Kau…! Apa kau, namja yang tadi pagi
itu?!” seruku.
‘NE, TERNYATA KAU MENGINGATNYA!
HAHAHA…’
“Apa maumu? Aku sama sekali tidak
ikut campur dengan urusan itu!” kataku mencoba menjelaskannya.
‘JANGAN TAKUT.. AKU TIDAK AKAN
MEMBUNUHMU. AKU HANYA MEMBUTUHKAN SEORANG TEMAN!’
“Mwo? Naneun? Ke-kenapa kau meminta
aku?” tanyaku ketakutan saat melihat kata-kata itu.
‘KARENA HANYA KAU YANG MELIHAT
KEJADIAN ITU!’
“Aku hanya tidak sengaja dengan itu
semua! Jangan ganggu aku. Chebal…” pintaku.
‘JANGAN TAKUT HYUN MIN. AKU TIDAK
BERNIAT JAHAT DENGANMU. AKU HANYA INGIN MENJADI TEMANMU, KARENA AKU SENDIRIAN.
KAU MAU KAN?’
“Hah? Bagaimana mungkin aku bisa
menjadi temanmu, sedangkan aku tidak bisa melihatmu,” jawabku.
‘KALAU KAU BENAR MAU MENJADI TEMANKU,
KAU BISA DATANG KE TEMPAT KEMARIN, DAN AMBIL CINCIN YANG ADA DISANA. MAKA KAU
BISA MELIHAT AKU NANTI’
“Eoh? Jeongmalyo? Tapi, apa kau benar
tidak akan membunuhku kan?” tanyaku lagi.
‘GEURAE! TENANG SAJA. AKU TIDAK AKAN
BERLAKU JAHAT PADAMU.’
“Baiklah, aku akan mengambil cincin
itu besok. Dan aku akan menjadi…temanmu,” kataku ragu.
‘KAU HARUS BENAR-BENAR MEMPERCAYAIKU,
KALAU TIDAK, KAU TIDAK AKAN BISA MELIHAT AKU. ARACHI?’
“Ne, araseo. Aku akan menjadi
temanmu,” jawabku sembari mengangguk.
‘KALAU BEGITU, PERKENALKAN, CHONEUN
KIM HYUN JOONG.’
“Ne, Park Hyun Min imnida,” balasku.
“Chogi! Jadi sejak tadi yang
memanggilku adalah kau?”
‘NE, WAEYO?’
“Ani, kau hanya membuatku sedikit
takut dengan itu semua,” jawabku.
‘MIANHE, KARENA AKU HANYA INGIN
MENJAHILIMU.’
“Haish! Eoh! Tadi pagi, apa kau
benar-benar meninggal?” tanyaku.
‘ HEMM, AKU SENDIRI MASIH TIDAK
PERCAYA BAHWA AKU SUDAH MENINGGAL SAAT INI. DAN SAAT ITU, AKU HANYA MELIHATMU.
JADI AKU MENGIKUTIMU WAKTU ITU.’
“Memang kau mempunyai masalah apa
dengan namja-namja tadi pagi itu?”
‘BELUM SAATNYA AKU BERCERITA
SEKARANG. NANTI AKAN KU JELASKAN’
“Geuraeyo? Baiklah, hooaaammm!!!” aku
menguap lebar sekali sekarang karna mataku tinggal beberapa watt lagi.
‘SEPERTINYA KAU SUDAH MENGANTUK.
LEBIH BAIK KAU TIDUR SEKARANG. MIAN MENGGANGGUMU. ANNYEONG..!’
“Ne, annyeong…” balasku sembari
berjalan mematikan computer. Setelah itu, aku kembali ke tempat tidur dan
menutup mataku.
***
Paginya, aku sengaja bangun pagi-pagi
agar bisa mampir sebentar ke tempat si hantu Hyun Joong. Selama di perjalanan,
aku masih berpikir tentang kejadian semalam. Apa mungkin aku berbicara
dengan seorang hantu? Ani! Bukan seorang, tapi semakhluk hantu? Baru kali ini
aku berbicara secara tidak langsung. Dan apa reaksiku apa bila aku melihatnya
nanti? Bisa saja dia berwujud menyeramkan. Atau mungkin wajahnya penuh dengan
darah. Dan mungkin seperti yang di TV-TV, wajahnya hancur akibat
pukulan-pukulan kemarin? Haish!! Kenapa aku bisa berurusan dengan hantu sih?!
‘KALAU KAU RAGU, LEBIH BAIK JANGAN
LAKUKAN!’
Sebuah suara mengagetkanku. Apa itu
si Hyun Joong.
“Apa itu kau? Hyun Joon~shi?” tanyaku
takut-takut.
‘GEURAE!’
“Ani! Aku yakin akan melakukannya.
Kau tidak perlu khawatir,” seruku langsung. Segera ku percepat langkahku menuju
rumah itu. ‘Berarti dia mengikuti sejak tadi? Haish!’ pikirku.
‘EHEM! AKU MENDENGAR ITU!’ suara itu
terdengar lagi.
“Mianhe~” kataku cepat. Tanpa banyak
bicara dan banyak pikir, di sepanjang perjalanan aku hanya diam.
Sesampainya di rumah itu, aku
melangkahkan kakiku perlahan. Debu-debu dan beberapa sarang laba-laba menghiasi
rumah itu. Membuatnya semakin tampak seram.
“Uhuk! Uhuk! Cincin itu dimana?”
tanyaku pada Hyun Joong.
‘TEMPAT DIMANA AKU KEMARIN DI BUNUH!’
jawab Hyun Joong. Kulangkahkan kakiku kesana. Sembari kucari cincin itu.
“Eoddiseo?? Aku harus cepat Hyun
Joong~a,” seruku.
‘AKU JUGA SEDANG MENCARINYA! KAU
JANGAN MENGELUH TERUS! BANTU AKU JUGA!’ ucapnya. Aku mendengus kesal. Mau tidak
mau aku mencari lagi.
Sudah 15 menit kami mencari, tapi
masih belum ketemu juga. Aku terduduk di samping dinding rumah yang sudah kumuh
itu.
“Aku lelah!” teriakku sembari
merentangkan tanganku kesamping. Tanpa sengaja, tanganku menyentuh sebuah benda
kecil.
“Caaahhh!! Igeo! Cincinnya!!!”
teriakku kesenangan.
‘PAKAILAH!’ suruhnya.
“Tapi sesuai perjanjian! Kalau aku
memakai cincin ini, kau tidak akan mengganggu aku? Otthe?” tanyaku.
‘ARA~YO! PAKAILAH!’
Kupasangkan cincin itu di jari
manisku. Perlahan dan hingga akhirnya masuk ke jariku.
“Yaa!! Eoddieso?” aku mencari letak
namja itu.
“Aku disini,” jawabnya. Aku berbali
badan dan menemukannya berdiri di belakangku. Mataku terbelalak langsung dan
refleks mulutku terbuka lebar.
“Hoaaaahhh~” kata-kata itu keluar
begitu saja dari mulutku.
“Aku tau reaksimu akan seperti ini
saat melihat aku! Sudah, jangan mengagumi kegantenganku!” balas namja itu yang
langsung membuat mulutku terkatup seketika dan berubah menjadi cibiran kecil.
“Huek!! Mau muntah aku mendengar
kata-katamu itu! Aku hanya kaget, biasanyakan hantu jelek! Tapi kenapa wajahmu
mulus-mulus saja?! Apa kau masih sempat ke salon tadi? Eoh?” tanyaku asal.
“Haish! Jangan mengejek dunia hantu
ya! Kau bisa aku laporkan ke PHG nantinya!” marah Hyun Joong.
“Mwo? PHG? Mwoyo?” heranku.
“Ne! Perserikatan Hantu Ganteng!”
jawabnya yang sontak membuat aku tertawa terbahak-bahak.
“Haish! Yaa! Waeyo? Apa yang lucu?!”
“Hahahahaha….!!!” aku tidak bisa
menahan tawaku sampai-sampai air mataku ingin keluar dan perutku sudah sakit
akibat tertawa.
“No jeongmal kyeopta Hyun Joong~a,”
tuturku.
“Yaa! Sudahlah! Jangan tertawa terus!
Kalau kau masih tertawa juga, nanti malam kau tidak akan bisa tidur aku buat!”
ancam Hyun Joong. Tapi ancamannya tidak mumpan terhadapku. Mulutku masih terus
tertawa. Aku melirik jam di tanganku. Seketika tawaku langsung berubah menjadi
raut wajah cemas.
“OMOOO!!! Aku akan terlambat!! Haish!
Kau kenapa tidak mengingatkan aku! Ck!” aku langsung berlari meninggalkannya.
Untungnya aku tidak terlambat hari
ini. Dan sekarang aku memulai pelajaran Minchi songseonim. Yang jadwal hari ini
adalah mengumpulkan tugas yang kubuat tadi malam itu.
Saat Minchi songseonim masuk ke dalam
kelas, aku di kagetkan dengan sesosok hantu yang mengikuti Minchi songseonim.
Mataku terbelalak seketika dan terpaku melihat namja itu.
“Yaa!! Kau kenapa ada disini?!”
bisikku dengan sangat pelan. Tapi hantu itu malah tidak perduli dengan
ucapanku. Ia masih terus mengikuti Minchi songseonim.
“Waeyo Hyun Min~a?” tanya Minchi
songseonim yang melihat aku.
“Eoh? Animida~ gwenchana..” jawabku
sambil menggaruk kepalaku yang rasanya gatal. Bukan karna aku tidak keramas,
tapi karena keringatku yang membuat kepalaku jadi gatal.
“Baiklah, apa kita bisa memulai
pelajarannya?” tanya Minchi songseonim.
“Ne~” jawab semua murid. Mataku masih
tidak lepas dari Hyun Joong.
“Silahkan kumpulkan pekerjaan kalian
ke depan. Bagi yang saya panggil, silahkan maju ke depan dan menjelaskan apa
yang telah di tulis,” jelas Minchi songseonim.
“Ne~” kata kami semua.
“Baik, Hyun Min, silahkan jelaskan
apa yang kamu tulis ini,” suruh Minchi songseonim yang membuatku terkejut.
Pasti ini gara-gara aku melihatnya dari tadi. Haish!
“Ne songseonim,” balasku sembari
berjalan ke depan kelas. Hyun Joong tampak senang melihat aku di suruh maju.
“Annyeonghashimnika~ Choneun Park
Hyun Min-imnida. Saya berdiri di depan ingin menjelaskan tentang karya tulis
yang saya buat. Disini saya mengambil konsep horror. Karna menurut saya, karya
tulis tidak selalu menceritakan tentang percintaan, kehidupan, dan apapun yang
sering kita temui. Memang tidak jarang karya tulis bertemakan horror. Dan
blablablabla…” jelasku panjang lebar.
Di tengah-tengah aku presentasi, aku
melihat Hyun Joong sekilas. Ia mengganggu konsenterasiku karna ia melakukan hal
yang membuatku ingin tertawa. Kalian tau apa yang ia lakukan? Ia menunjukkan
bokongnya di hadapan Minchi songseonim.
Dan puncaknya, tawaku tak tertahan
lagi. Aku tertawa dengan mantapnya dan membuat semua orang menatapku aneh. Aku
langsung menutup mulutku.
“Hyun Min! Kenapa kamu tertawa?!”
tanya Minchi songseonim yang membuatku langsung terdiam.
“Chosuamnida songseonim. Aku tidak
sengaja,” jawabku takut.
“Memang ada yang lucu? Eoh?! Apa yang
kamu tawakan?” Minchi songseonim mulai menampakkan tampang marahnya.
“Ani, chosuamnida songseonim,”
kataku. Dan aku melihat sekaligus mendengar Hyun Joong yang buang angin di
depan Minchi songseonim.
“Hahahaha….!” tawaku membahana di
kelas.
“Yaa!! Hyun Min!! Apa yang sedang kau
tertawakan? Apa kau sedang menertawakanku?! Eoh?!”
“Chosuamnida songseonim.
Chosuamnida,” aku menundukkan kepalaku sebanyak mungkin.
“Sekarang, keluar dari kelas saya!
Kha!!” Minchi songseonim mengusirku. Aku berjalan lesu keluar dari kelas.
‘Haish! Dasar hantu sialan! Ck! Ini
semua karna dia!! Eomma~ aku salah membantu hantu itu,’ pikirku kesal. Aku
berjalan ke dalam Hall yang besar dan dimana aku bisa sendiri. Ani, bersama
piano disitu. Huh! Aku duduk di kursi piano dan menundukkan kepalaku di antara
tuts-tuts yang berwarna hitam dan putih.
Tanpa kusadari, Hyun Joong sudah
duduk di sampingku dan memainkan sebuah lagu. Aku melihat ke arahnya.
“Eoh? Kau bisa bermain piano?”
tanyaku. Hyun Joong mengangguk dan masih memainkan piano tersebut. Aku cuma
bisa mendengus kesal sambil menopang daguku. Menikmati permainan jari Hyun
Joong yang begitu fasih memainkannya. Aku ikut terbawa suasana dengan
memejamkan kedua mataku.
“Hyun Joong~a,” panggilku.
“Eoh?”
“Kapan kau belajar bermain piano?”
tanyaku.
“Ehm… Molla. Aku hanya memencet
nada-nada ini, dan aku sama sekali tidak belajar,” jawab Hyun Joong.
“Jinjjayo?! Woooaah! Daebak!” mulutku
terbuka mengagumi keahliannya bermain piano.
“Kau sendiri? Alat musik apa yang
bisa kau mainkan?” tanya Hyun Joong.
“Obseoyo~ haahaha…” tawaku sedikit
malu.
“Ch! Pabbo!” kata Hyun Joong yang
membuatku terdiam seketika.
“Yaa! Araseo! Aku memang tidak
berbakat dalam seni! Tidak sepertimu! Kau hantu saja mempunyai bakat! Kau
puas?!” umpatku.
“Yep! Benar sekali! Kau sadari itu!”
balasnya.
“Haish! Sepertinya kau benar-benar
hantu yang tingkat kepede-annya kelebihan! Baru kali ini aku menemui hantu
sepertimu!” seruku kesal.
“Sudahlah! Kau jangan iri padaku!”
“Mworago?! Haish! Ckckck~ Ye-ye,
terserah apa katamu!” aku berjalan pergi meninggalkannya.
Di tengah Hall, Hyun Joong memainkan
pianonya dan membuat langkahku terhenti. Aku benar-benar terkesan dengan
keahliannya ini. Aku berbalik arah ke tempat tadi.
“Hyun Joong~a, apa kau bisa memainkan
piano ini setiap aku sedang kesal?” ucapanku keluar begitu saja tanpa ku
pikir-pikir.
“Eoh? Wae? Kau menyukainya?” tanya
Hyun Joong. Aku mengangguk malu-malu.
“Geuraechi? Kalau begitu, araseo. Aku
akan memainkan piano ini untukmu,” balas Hyun Joong membuat senyuman di bibirku
mengembang.
***
Author P.O.V
Ini sudah 2 minggu Hyun Min dan Hyun
Joong bersama. Hyun Joong terus mengikuti kemana Hyun Min pergi. Kecuali
sewaktu Hyun Min mandi. Karna Hyun Min sudah berjaga-jaga pada Hyun Joong agar
ia tidak mengintip saat Hyun Min mandi. Kalau Hyun Joong mengintip, ia
bersumpah akan mencabut bulu kaki Hyun Joong.
Hari ini Hyun Min menjalankan
hari-hari seperti biasanya. Naik bus, sampai sekolah, dan duduk anteng di
kursinya. Itulah yang Hyun Min lakukan tiap harinya.
“Yaa! Hyun Min~a, kau yeoja yang
kuper ya di sekolah ini? Apa kau tidak bosan menjalani kehidupan hanya seperti
ini? Duduk di kursi dan diam sambil membaca buku. Ckckck..” seru Hyun Joong
meledek Hyun Min.
“Ck! Kau lebih baik diam! Jangan
banyak bicara! Aku tidak mau disangka gila hanya karna berbicara sendiri!”
balas Hyun Min setengah berbisik.
“Haish! Shiruo! Aku tidak bisa diam!”
kata Hyun Joong sembari terbang-terbang di samping Hyun Min.
“Hyun Min~a!!” panggil Hye Li yang
tanpa sepengatahuannya bahwa ia sudah menabrak Hyun Joong.
“Ehm? Waeyo?” jawab Hyun Min sembari
menahan tawanya.
“Ani~ Ke Perpustakaan yuk?” ajak Hye
Li.
“Ehmm, mau apa?” tanya Hyun Min.
“Mau makan! Yaah mau baca buku
laah!!!” jawab Hye Li membulatkan matanya yang belok.
“Araseo! Kajja!” Hyun Min menerima
ajakan Hye Li.
Hyun Min dan Hye Lipun berjalan ke
perpustakaan dengan di ikuti Hyun Joong di belakangnya.
“Hyun Min~a, kenapa aku merinding
ya?” Hye Li memegang tengkuk lehernya.
“Ehm? Jinjja? Aniyo~” jawab Hyun Min
sembari melihat Hyun Joong yang sedang di samping Hye Li.
“Aaah~ mungkin hanya perasaanku saja.
Palliyo~” Hye Li menarik tangan Hyun Min.
Sesampainya di perpustakaan, Hyun Min
dan Hye Li membaca buku yang masing-masing mereka pegang. Hyun Min tertarik
dengan sebuah buku yang sudah sedikit kusam dan terbilang lama. Karna lembaran
buku itupun sudah coklat. Buku itu menceritakan tentang seorang manusia
menyukai namja yang sudah menjadi hantu. Hyun Min sangat tertarik dengan cerita
itu sampai-sampai ia tidak menanggapi Hyun Joong yang sejak tadi berceloteh tidak
karuan kepadanya.
“Hyun Min~a!! Kau serius sekali
membacanya! Sudahlah! Aku tidak punya teman nih!!” rengek Hyun Joong sambil
menarik-narik kaki Hyun Min seperti anak kecil yang meminta susu.
“Haish! Yaa! Hyun Joong~a!! Sudahlah!
Jangan ganggu aku dulu!” teriak Hyun Min seketika. Dan dengan cepat, semua mata
menuju pada Hyun Min. Wajah Hyun Min langsung memerah malu.
“Waeyo Hyun Min~a? Kau kenapa
marah-marah sendiri?” tanya Hye Li sedikit berbisik.
“Ani! Igeo, aku hanya terlalu
menghayati cerita ini. Makanya aku sampai berteriak seperti ini,” jelas Hyun
Min yang jelas-jelas berbohong.
“Ckckck… Kau seperti orang gila
saja!” rutuk Hye Li.
“Mian..” balas Hyun Min sembari
membungkukkan badannya. Hyun Min langsung mencari Hyun Joong yang kini sudah
kabur dari tempatnya tadi. Hyun Min bersumpah akan mencabut bulu kaki Hyun
Joong bila bertemunya.
***
Hyun Min P.O.V
Aku berjalan pulang ke rumah. Sejak
tadi batang hidung Hyun Joong masih belum terlihat. Kalau saja aku bertemu
dengannya, matilah dia di tanganku. Geundae! Bukankah dia sudah mati? Mana
mungkin dia mati dua kali. Pabboya!
Aku melangkahkan kakiku masuk.
Kehadiranku langsung di sambut dengan keadaan yang benar-benar tak bisa
kubayangkan. Eomma?
“Eomma~” panggilku dengan tubuh eomma
yang sudah terlungkup dengan darah di sekitar tubuhnya.
“Eomma!!!” aku berteriak tak karuan.
Air mataku mengalir seketika saat menyadari keadaan eomma yang sudah tidak
bernapas lagi.
“Eomma~ ireona, chebal…” pintaku.
Mataku terpaku melihat sebuah tulisan yang ada di kaca lemari. Tulisan berwarna
merah yang bisa ku tebak itu adalah darah eommaku.
‘KAU! JANGAN PERNAH MELAPORKAN KE
POLISI TENTANG HAL INI! TERMASUK KASUS NAMJA YANG KAMI BUNUH! KALAU KAU
MELAPORKANNYA, KAMI BERSUMPAH AKAN MEMBUAT HIDUPMU TIDAK AKAN TENANG DAN JUGA
KAMI AKAN MEMBUATMU MATI DI TANGAN KAMI!’
Yah, tulisan itu membuatku sangat
terpukul dan marah. Ini semua karna kejadian itu! Dan berarti yang membunuh
eomma adalah sama dengan yang membunuh Hyun Joong.
“Eomma!!” teriakku menangisi nasib
eommaku. Ini semua karna aku! Kalau saja waktu itu aku tidak berurusan dengan
kasus itu. Eomma tidak akan pergi meninggalkanku! Aaah~!
“Hyun Min~a!” teriak seseorang. Aku
melihat Hyun Joong berdiri di sampingku.
“Waeyo?” tanyanya. Aku menatapnya
penuh kemarahan.
“Hyun Min?” Hyun Joong memegang
pundakku. Aku menyentakkan tangannya kasar.
“Ini semua karna kau! Ini semua karna
kematianmu! Aku tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang telah membunuh
eommaku! Termasuk kau!!!” teriakku penuh nada kebencian. Hyun Joong berjalan
mejauhiku. Aku masih menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Sudah hampir dua minggu sejak
kematian eommaku, aku hidup sendirian di rumah. Aku tidak pernah lagi melihat
Hyun Joong. Itu membuatku semakin merasa sendirian. Aku tau apa yang ku lakukan
waktu itu benar-benar membuatnya marah. Tapi aku pun juga seperti itu. Aku
marah dengannya. Kenapa waktu itu ia tidak datang menolong eommaku. Yang
jelas-jelas itu ada sangkut pautnya dengan kematiannya.
Aku duduk sendirian di meja makan. Memakan
sepiring nasi dan telur yang ku buat. Biasanya eomma selalu memasakanku makanan
sebelum aku pergi sekolah. Tapi sekarang aku harus memasak sendiri apa yang
ingin ku makan.
Tanpa terasa air mataku kembali
membasahi pipiku. Aku menghapus air mataku dan berjalan membereskan
piring-piring lalu pergi ke sekolah. Inilah pekerjaanku sekarang.
Kakiku membawaku melewati tempat Hyun
Joong di bunuh. Kembali terngiang kejadian waktu itu.
“Apa lagi rencana kita bos? Kita
sudah membunuh ibu anak itu! Dan tidak menutup kemungkinan anak itu tidak
melaporkan kita ke polisi,” suara berat menghentikan langkah kakiku lagi. Aku
langsung berpikir bahwa itu orang-orang yang telah membunuh Hyun Joong dan juga
eommaku. Aku menguping pembicaraan mereka.
“Sebelum yeoja itu melaporkan kita ke
polisi, aku akan membunuhnya terlebih dahulu! Aku tidak akan membiarkannya!
Apalagi yeoja itu sekarang tinggal hanya sendirian, jadi akan memudahkan kita
untuk menghabisinya!” jawab namja satu lagi. Jantungku langsung berdegup cepat
mendengar kata-kata itu. Berarti aku akan di bunuh mereka? Eotthokaji? Aku
tidak ingin mati konyol karna mereka! Aku berjalan mundur hendak meninggalkan
tempat ini. Buuukkk!! Tumpukkan kayu yang ada di belakangku jatuh dengan
tepatnya akibat kakiku. Secepat mungkin aku berlari meninggalkan tempat ini
menuju sekolahan.
Sesampainya di sekolah, aku langsung
terduduk di bangkuku. Masih dengan napas tersengal-sengal. Kata-kata itu masih
terngiang jelas di telingaku.
“Hyun Min~a, wae? Gwenchana?” tanya
Hye Li yang duduk di sampingku.
“Eoh? Ne, gwenchana~” jawabku
meyakinkannya.
“Geurae? Baiklah kalau begitu,” ucap
Hye Li. Mataku masih menerawang ke depan.
‘Aku harus tau apa cerita sebenarnya?
Aku harus bertemu dengan Hyun Joong. Agar semuanya jelas. Aku tidak ingin berurusan
seperti ini,’ pikirku. Aku berlari ke Hall sekolahku. Ku abaikan panggilan Hye
Li.
Di Hall hanya ruangan kosong dengan
piano yang menghiasinya. Yah, inilah tempat yang selalu membuatku tenang.
“Eomma~ Hyun Joong~ Apa kalian ada
disini? Aku takut.. Aku tidak mau berada dalam keadaan seperti ini. Tolong
aku..” tangisku pecah seketika. Aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku
takut.
Teng..Teng..Teng..Teng..
Suara piano yang membuatku terkejut
dan sontak melihat piano itu. Napasku tidak beraturan masih tidak menyangka
kejadian ini. Apa mungkin itu adalah..
“Hyun joong~a?” panggilku. Aku
berjalan ke kursi piano dan benar saja mendapatkan sosok Hyun Joong yang
memainkan piano itu.
“Hyun Joong~a!!!” aku berlari ke
arahnya dan langsung memeluknya.
“Aaah~ kemana saja kau?! Kau tidak
tau betapa aku ketakutannya sendirian di rumah! Dan kau tau bahwa nyawaku
sekarang sudah tidak aman lagi! Aku bisa terancam mati sepertimu!” aku terus
memarahinya. Sedangkan Hyun Joong hanya tersenyum melihatku.
“Mianhe Hyun Min~a.. Benar katamu,
ini semua karna aku. Seandainya kau tidak membantuku, tidak akan membuatmu
sedih dan kehilangan eommamu. Ini semua salahku,” ucapnya.
“Huuhuhu… khajima! Aku takut
sendirian!” tangisku.
“Mianhe.. Aku berjanji tidak akan
meninggalkanmu lagi. Eoh?” balas Hyun Joong sembari menghapus air mataku. Aku
mengangguk setuju.
“Hyun Joong~a, kau belum menceritakan
kepadaku. Apa penyebab orang-orang itu membunuhmu?” tanyaku.
“Eoh? Kau benar-benar ingin tahu?”
“Ehm!” aku mengangguk cepat. Mata
Hyun Joong melihat lurus ke depan.
“Waktu itu aku berjalan ingin pergi
ke sekolah. Dan tiba-tiba saja orang-orang itu menculikku dan memukuliku hingga
aku seperti ini. Karna waktu itu aku pernah menolong orang yang ingin mereka
bunuh. Hingga sekarang malah kebalikannya, justru aku yang di bunuh oleh
mereka,” jelas Hyun Joong.
“Jadi kau sebenarnya tidak salah?
Malah kau bermaksud baik tapi malah kau yang terbunuh? Geurae?” tebakku. Hyun
Joong mengangguk.
“Hoah~ mungkin kalau aku mati,
kasusku sama sepertimu. Iya kan?”
“hahaha… Iya mungkin. Aku tau kau
tadi mendengar pembicaraan orang-orang yang membunuhku. Makanya kau ketakutan
sekarang,” tutur Hyun Joong.
“Ehm! Eotthokaji?”
“Tenang saja, aku tidak akan
membiarkanmu mati sepertiku. Aku akan membantumu untuk membuat mereka masuk ke
penjara. Tenang lah..” Hyun Joong berusaha menenangkanku. Aku tersenyum senang.
“Gomawo Joong~a, geuraedu mianhe
telah memaki-makimu kemarin,” kataku padanya.
“Gwenchana. Kau tidak belajar?” tanya
Hyun Joong yang sontak membuatku menepuk keningku.
“Aaah~ aku pergi dulu! Annyeong!!”
aku berlari meninggalkannya.
Sepulang sekolah aku sengaja berjalan
melewati tempat tadi pagi. Hari ini aku ingin menjebloskan orang-orang tak
berperasaan itu mati membusuk di penjara. Tak akan kubiarkan orang-orang yang
ku cintai menderita karna mereka. Ehm? Orang yang kucintai? Apa maksudnya? Aah~
lupakan!
“Yaaa!!! Keluar kalian! Aku akan
melaporkan kalian ke kantor polisi!” seruku dengan lantang. Tiba-tiba
orang-orang itu keluar dengan wajah sombongnya. Rasanya ingin sekali aku
membunuh mereka dengan tanganku mengingat eommaku yang meninggal karna mereka.
“Ternyata kau? Baguslah kalau kau
datang sendiri! Kami tidak payah-payah mencarimu susah-susah!” ucap namja itu
sembari berjalan mendekat ke arahku. Aku mengambil ancang-ancang siap menendang
mereka dan berlari.
“Kyaaa~!!!” aku menendang
selangkangan mereka lalu berlari pergi. Seperti pemikiranku, pasti aku akan di
kejar oleh mereka. Secepat mungkin aku berlari menuju pos polisi.
“Yaa!! Berhenti kau perempuan sial!!”
teriak orang-orang itu. Aku terus berlari. Menerobos kerumunan orang-orang.
“Minggir!!” teriakku pada setiap
orang.
“Chosuamnida~ Minggir!!” terus-terus
aku berteriak. Dan akupun sudah melihat pos polisi terdekat.
“Ahjussi!!!” teriakku pada para
polisi yang ada disana. Polisi itupun keluar dan melihat aku. Orang-orang yang
mengejarku sudah berada di sampingku dan menangkap tanganku.
“Waeyo?” tanya mereka.
“Aah~ aniyo. Ini anak saya ingin main
kejar-kejaran. Kami pergi dulu. Maaf merepotkan,” orang-orang itu menarik
tanganku. Aku masih melihat ke arah polisi itu penuh harap. Tapi inilah
takdirku. Aku akan mati sekarang.
Tubuhku di lempar keras hingga
tanganku terluka.
“Kau ingin melaporkan kami? Eoh?!
Tidak akan bisa! Kau sendiri yang menyerahkan nyawamu kepada kami!” teriak
namja itu sambil mencekik leherku. Hatiku berteriak memanggil Hyun Joong. Aku
takut sekali.
“Kau mau mati seperti eommamu?!
Hah?!” namja itu semakin menguatkan tangannya.
“Tch!” aku meludahi wajah namja itu.
“Yaa!! Perempuan brengsek! Plaakk!”
aku menerima tamparan telak di pipiku.
“Ku bunuh kau!!” namja itu kembali
mencekik kencang leherku.
“Aah~” aku berusaha untuk melepaskan
tangannya yang besar.
“Angkat tangan kalian semua!!!”
teriak polisi yang tiba-tiba membuat namja itu ketakutan.
“uhuk! Uhuk!” aku terbatuk mencoba
membiarkan udara masuk ke paru-paruku.
“Tangkap mereka!” suruh seorang
polisi.
“Shit! Ini semua karna kau!” teriak
namja itu ke arahku. Tapi aku sudah puas kini mereka sudah di tangkap. Geundae,
siapa yang memberitahukan kepada polisi itu?
“Aku,” jawab seseorang yang bisa ku
tebak itu adalah Hyun Joong.
“Hyun Joong~a!” aku berlari
memeluknya. Aku menangis di pelukannya. Aku takut.
“Gwenchana?” tanyanya.
“Ehm! Gomawo Hyun Joong~a.. Kalau
tidak ada kau, mungkin aku sudah mati. Gomawo,” jawabku.
“Aku yang seharusnya berterima kasih
padamu. Kalau tidak ada kau, aku tidak akan tenang sekarang. Aku sudah bisa
istirahat dengan tenang dan tidak akan mengganggumu lagi,” bisik Hyun Joong.
“Maksudmu? Kau bisa istirahat dengan
tenang?” aku tidak mengerti dengan perkataannya.
“Aku bisa tenang karna orang yang
sudah membunuhku di tangkap. Gomawo Hyun Min~a..” ucapnya yang membuatku
terkejut.
“Jadi, kau akan pergi untuk
selamanya?” tanyaku. Hyun Joong mengangguk tersenyum.
“Andwe! Kau bilang tidak akan
meninggalkanku! Tapi nyatanya kau pergi!” teriakku tidak terima.
“Aku tidak akan pergi Hyun Min. Aku
akan selalu ada di hatimu. Eoh? Aku pergi.. Jangan menangis.. Gomawo Hyun
Min~a..” tutur Hyun Joong.
“Andwe! Andwe Hyun Joong~a!!” tapi semua
di luar kendaliku. Hanya terpaan angin yang menjawabnya. Hyun Joong sudah
pergi.
“Hyun Joong~a…” rintihku. Aku melihat
cincin yang di berikan Hyun Joong kini sudah hilang. Tidak ada di jariku.
“Aaahh~!!” teriakku.
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar