Minggu, 13 Januari 2013

KHAJIMA

Khajima….!!! (Oneshot)
SAYA BUKAN AUTHOR DARI FF INI .
SAYA HANYA MENGSHARE FF






 

Title: Khajima… (One Shoot)
Genre: Horor? Romance
Character:
- Park Hyun Min
- Kim Hyun Joong
- Kim Hye Li



Author P.O.V

Di pagi hari yang cerah nan indah, dimana seluruh masyarakat Seoul sangat menikmati pagi ini. Cuaca yang mendukung benar-benar membuat semua orang semangat menjalani aktivitasnya masing-masing. Tapi tidak bagi yeoja yang sedang terburu-buru agar sampai ke sekolah tepat pada waktunya. Park Hyun Min. Hyun Min selalu saja terlambat.
“Haish! Kenapa bis ini lama sekali sih?!” gerutu Hyun Min. Sesekali ia melirik jam arloji yang terpasang di tangan sebelah kirinya.
“Hah! Eothokaji?! 10 menit lagi gerbang sekolah akan di tutup!” Hyun Min menepuk jidatnya sedikit kuat dan membuat bulatan merah di keningnya.
Berpikir selama beberapa detik, ia memutuskan untuk berlari dari halte sampai sekolahnya. Untungnya ia mengetahui jalanan sempit yang bisa ia lewati agar cepat sampai di sekolah. Iapun menyusuri gang-gang kecil dan beberapa rumah-rumah yang sudah tidak berpenghuni.
BUUKK!! BUUKK!

Sebuah suara menghentikan langkah Hyun Min. Ia memperjelas pendengarannya.
“Aaahhh~” rintihan suara namja mengagetkannya. Kini langkahnya mengikuti sumber suara yang berasal dari rumah kosong. Sesekali ia mengintip keadaan disana.
Alangkah kagetnya Hyun Min, ia melihat seorang namja yang tergeletak tidak berdaya di antara namja-namja bertubuh besar. Kakinya melemas seketika saat Hyun Min melihat mata namja yang di pukuli itu melihatnya. Mata yang penuh dengan darah.

“Bos, sepertinya urusan kita dengannya selesai! Dia sudah mati!” seru seorang namja.
“Bagus! Kalau begitu ayo pergi!” kata namja yang satu lagi. Hyun Min langsung mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.
Jantungnya masih berdegup kencang. Dia ingin membantu namja itu, tapi kalau ia membantunya, ia akan terlambat. Sehingga ia memutuskan untuk tetap pergi dari tempat itu.

***

Hyun Min P.O.V

Apa tindakanku tadi salah ya? Apa aku berdosa? Haish! Kenapa aku harus melihat itu tadi?! Jeongmal pabboya!
“Yaa! Hyun Min~a! No waeyo?” seru chinguku Hye Li.
“Aniyo~ gwenchana,” jawabku berbohong.
“Gotjimal! Marabwa!” suruhnya. Hye Li memang susah di bohongi. Atau memang aku yang tidak bisa berbohong? Halah!
“Tadi, aku …” kata-kataku terhenti seketika.
“Wae?”
“Tadi aku melihat seseorang dipukuli hingga… meninggal,” jawabku takut.
“Lalu? Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Aku lari,” jawabku lagi dengan tampang tak berdosaku.
“Haish! Jinjja! No pabboya! Kenapa kau tidak menolongnya! Kalau benar namja itu mati, kau pasti akan di ikutinya!” seru Hye Li menakutiku.
“Yaa! Mati! Meninggal tau! Kau pikir dia hewan apa?!” balasku.
“Yah, terserahlah apa itu namanya. Memang kenapa dia bisa dipukuli?”
“Mollayo~ Aku hanya mendengar seseorang berbicara ‘Bos, urusan kita dengan dia sudah selesai. Dia sudah mati!’ seperti itu dia bilang,” jelasku.
“Wah-wah-wah… Sepertinya kau salah. Kenapa kau tidak memanggil orang-orang untuk membantunya?” selidik Hye Li.
“Yaa! Disana itu sangat sepi. Mana ada orang yang lewat. Kalau aku berteriak, yang ada aku juga ikut mati disana!” balasku padanya.
“Geuraeyo? Hemm, sudahlah. Tapi nanti malam kau hati-hati saja ya. Mungkin saja arwah namja tadi itu ada di sampingmu dan mengganggumu. Hihihihi~” Hye Li berlari saat melihat aku sudah memegang sepatuku yang mulus dan siap untuk melemparnya.
“Dasar yeoja kurang kerjaan!!” rutukku.

Saat pulang sekolah, kata-kata Hye Li tiba-tiba terngiang di telingaku. Dan seketika bulu kudukku berdiri. Omo~
“Haish! Andwe! Mana mungkin seperti itu! Aku tidak ada sangkut pautnya dengan urusan tadi!” kataku sembari menggelengkan kepalaku kencang.
‘Hyun Min~a…’ panggil seseorang. Aku melihat kebelakang. Tapi tidak ada orang sama sekali. Yang ada hanya kucing sambil mengeong. Ehm? Apa mungkin dia yang memanggilku?
“Nuguya?” tanyaku. Tapi tidak ada jawaban. Aku tidak terlalu menanggapinya. Kulanjutkan perjalananku.
‘Hyun Min~a…’ lagi-lagi aku mendengar suara yang memanggilku.
“Yaa! Nuguya?!” tanyaku setengah berteriak. Seketika bulu kudukku berdiri.
“Haish! Jangan main-main denganku! Keluarlah!” seruku. Tapi hanya desiran angin yang menerpa wajahku. Pikiranku langsung melayang dengan kata-kata Hye Li tadi. Apa mungkin, namja tadi?
“Eomma!!” teriakku sembari masuk ke dalam rumah.
“Waeyo Hyun Min~a?” tanya eommaku.
“Ani, ehm, gwenchana eomma,” jawabku sembari mengatur napasku.
“Kau mau makan tidak?”
“Ani, aku sudah kenyang eomma. Aku tidur duluan ya. Aku lelah,” jawabku sambil berjalan meninggalkan eommaku.
Malam ini aku mempunyai tugas yang banyak dari Minchi songsenim. Ia menugasi murid-muridnya untuk membuat karya tulis lalu di kumpulkan besok juga. Hfft! Bisa gila aku lama-lama.
Saat aku melihat jam di dinding kamar, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hooaamm!! Benar-benar ngantuk.
Tok! Tok! Tok!
Aku di kagetkan dengan ketukan kamar. Sudah jam segini, siapa yang mengetuk pintu? Sedangkan lampu di luar sudah di matikan.
“Nuguya?” tanyaku sembari jalan menuju pintu. Tidak ada jawaban dari luar.
Ceklek! Ku buka gagang pintu dan melihat ke luar kamar. Tidak ada siapun. Hanya gelap dan sepi. Seketika bulu kudukku berdiri dan segera ku tutup lagi pintu. Aku berlari ke atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhku sedangkan komputerku masih dalam keadaan hidup. Eotthoke?
Entah itu khayalan atau kenyataan, aku melihat bukuku melayang sendiri dan juga pulpenku. Omo~
“Eomma…!!” rintihku ketakutan. Sekarang, komputerku menuliskan sebuah kata-kata yang entah siapa menulisnya.

‘ANNYEONG PARK HYUN MIN..! KAU INGAT DENGANKU??’

“Nuguseo?” tanyaku. Pikiranku langsung berputar kepada sosok namja yang tadi pagi aku lihat. Atau mungkin??
“Kau…! Apa kau, namja yang tadi pagi itu?!” seruku.

‘NE, TERNYATA KAU MENGINGATNYA! HAHAHA…’

“Apa maumu? Aku sama sekali tidak ikut campur dengan urusan itu!” kataku mencoba menjelaskannya.

‘JANGAN TAKUT.. AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHMU. AKU HANYA MEMBUTUHKAN SEORANG TEMAN!’

“Mwo? Naneun? Ke-kenapa kau meminta aku?” tanyaku ketakutan saat melihat kata-kata itu.

‘KARENA HANYA KAU YANG MELIHAT KEJADIAN ITU!’

“Aku hanya tidak sengaja dengan itu semua! Jangan ganggu aku. Chebal…” pintaku.

‘JANGAN TAKUT HYUN MIN. AKU TIDAK BERNIAT JAHAT DENGANMU. AKU HANYA INGIN MENJADI TEMANMU, KARENA AKU SENDIRIAN. KAU MAU KAN?’

“Hah? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi temanmu, sedangkan aku tidak bisa melihatmu,” jawabku.

‘KALAU KAU BENAR MAU MENJADI TEMANKU, KAU BISA DATANG KE TEMPAT KEMARIN, DAN AMBIL CINCIN YANG ADA DISANA. MAKA KAU BISA MELIHAT AKU NANTI’

“Eoh? Jeongmalyo? Tapi, apa kau benar tidak akan membunuhku kan?” tanyaku lagi.

‘GEURAE! TENANG SAJA. AKU TIDAK AKAN BERLAKU JAHAT PADAMU.’

“Baiklah, aku akan mengambil cincin itu besok. Dan aku akan menjadi…temanmu,” kataku ragu.

‘KAU HARUS BENAR-BENAR MEMPERCAYAIKU, KALAU TIDAK, KAU TIDAK AKAN BISA MELIHAT AKU. ARACHI?’

“Ne, araseo. Aku akan menjadi temanmu,” jawabku sembari mengangguk.

‘KALAU BEGITU, PERKENALKAN, CHONEUN KIM HYUN JOONG.’

“Ne, Park Hyun Min imnida,” balasku.
“Chogi! Jadi sejak tadi yang memanggilku adalah kau?”

‘NE, WAEYO?’

“Ani, kau hanya membuatku sedikit takut dengan itu semua,” jawabku.

‘MIANHE, KARENA AKU HANYA INGIN MENJAHILIMU.’

“Haish! Eoh! Tadi pagi, apa kau benar-benar meninggal?” tanyaku.

‘ HEMM, AKU SENDIRI MASIH TIDAK PERCAYA BAHWA AKU SUDAH MENINGGAL SAAT INI. DAN SAAT ITU, AKU HANYA MELIHATMU. JADI AKU MENGIKUTIMU WAKTU ITU.’

“Memang kau mempunyai masalah apa dengan namja-namja tadi pagi itu?”

‘BELUM SAATNYA AKU BERCERITA SEKARANG. NANTI AKAN KU JELASKAN’

“Geuraeyo? Baiklah, hooaaammm!!!” aku menguap lebar sekali sekarang karna mataku tinggal beberapa watt lagi.

‘SEPERTINYA KAU SUDAH MENGANTUK. LEBIH BAIK KAU TIDUR SEKARANG. MIAN MENGGANGGUMU. ANNYEONG..!’

“Ne, annyeong…” balasku sembari berjalan mematikan computer. Setelah itu, aku kembali ke tempat tidur dan menutup mataku.

***
Paginya, aku sengaja bangun pagi-pagi agar bisa mampir sebentar ke tempat si hantu Hyun Joong. Selama di perjalanan, aku  masih berpikir tentang kejadian semalam. Apa mungkin aku berbicara dengan seorang hantu? Ani! Bukan seorang, tapi semakhluk hantu? Baru kali ini aku berbicara secara tidak langsung. Dan apa reaksiku apa bila aku melihatnya nanti? Bisa saja dia berwujud menyeramkan. Atau mungkin wajahnya penuh dengan darah. Dan mungkin seperti yang di TV-TV, wajahnya hancur akibat pukulan-pukulan kemarin? Haish!! Kenapa aku bisa berurusan dengan hantu sih?!
‘KALAU KAU RAGU, LEBIH BAIK JANGAN LAKUKAN!’
Sebuah suara mengagetkanku. Apa itu si Hyun Joong.
“Apa itu kau? Hyun Joon~shi?” tanyaku takut-takut.
‘GEURAE!’
“Ani! Aku yakin akan melakukannya. Kau tidak perlu khawatir,” seruku langsung. Segera ku percepat langkahku menuju rumah itu. ‘Berarti dia mengikuti sejak tadi? Haish!’ pikirku.
‘EHEM! AKU MENDENGAR ITU!’ suara itu terdengar lagi.
“Mianhe~” kataku cepat. Tanpa banyak bicara dan banyak pikir, di sepanjang perjalanan aku hanya diam.
Sesampainya di rumah itu, aku melangkahkan kakiku perlahan. Debu-debu dan beberapa sarang laba-laba menghiasi rumah itu. Membuatnya semakin tampak seram.
“Uhuk! Uhuk! Cincin itu dimana?” tanyaku pada Hyun Joong.
‘TEMPAT DIMANA AKU KEMARIN DI BUNUH!’ jawab Hyun Joong. Kulangkahkan kakiku kesana. Sembari kucari cincin itu.
“Eoddiseo?? Aku harus cepat Hyun Joong~a,” seruku.
‘AKU JUGA SEDANG MENCARINYA! KAU JANGAN MENGELUH TERUS! BANTU AKU JUGA!’ ucapnya. Aku mendengus kesal. Mau tidak mau aku mencari lagi.
Sudah 15 menit kami mencari, tapi masih belum ketemu juga. Aku terduduk di samping dinding rumah yang sudah kumuh itu.
“Aku lelah!” teriakku sembari merentangkan tanganku kesamping. Tanpa sengaja, tanganku menyentuh sebuah benda kecil.
“Caaahhh!! Igeo! Cincinnya!!!” teriakku kesenangan.
‘PAKAILAH!’ suruhnya.
“Tapi sesuai perjanjian! Kalau aku memakai cincin ini, kau tidak akan mengganggu aku? Otthe?” tanyaku.
‘ARA~YO! PAKAILAH!’
Kupasangkan cincin itu di jari manisku. Perlahan dan hingga akhirnya masuk ke jariku.
“Yaa!! Eoddieso?” aku mencari letak namja itu.
“Aku disini,” jawabnya. Aku berbali badan dan menemukannya berdiri di belakangku. Mataku terbelalak langsung dan refleks mulutku terbuka lebar.
“Hoaaaahhh~” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Aku tau reaksimu akan seperti ini saat melihat aku! Sudah, jangan mengagumi kegantenganku!” balas namja itu yang langsung membuat mulutku terkatup seketika dan berubah menjadi cibiran kecil.
“Huek!! Mau muntah aku mendengar kata-katamu itu! Aku hanya kaget, biasanyakan hantu jelek! Tapi kenapa wajahmu mulus-mulus saja?! Apa kau masih sempat ke salon tadi? Eoh?” tanyaku asal.
“Haish! Jangan mengejek dunia hantu ya! Kau bisa aku laporkan ke PHG nantinya!” marah Hyun Joong.
“Mwo? PHG? Mwoyo?” heranku.
“Ne! Perserikatan Hantu Ganteng!” jawabnya yang sontak membuat aku tertawa terbahak-bahak.
“Haish! Yaa! Waeyo? Apa yang lucu?!”
“Hahahahaha….!!!” aku tidak bisa menahan tawaku sampai-sampai air mataku ingin keluar dan perutku sudah sakit akibat tertawa.
“No jeongmal kyeopta Hyun Joong~a,” tuturku.
“Yaa! Sudahlah! Jangan tertawa terus! Kalau kau masih tertawa juga, nanti malam kau tidak akan bisa tidur aku buat!” ancam Hyun Joong. Tapi ancamannya tidak mumpan terhadapku. Mulutku masih terus tertawa. Aku melirik jam di tanganku. Seketika tawaku langsung berubah menjadi raut wajah cemas.
“OMOOO!!! Aku akan terlambat!! Haish! Kau kenapa tidak mengingatkan aku! Ck!” aku langsung berlari meninggalkannya.

Untungnya aku tidak terlambat hari ini. Dan sekarang aku memulai pelajaran Minchi songseonim. Yang jadwal hari ini adalah mengumpulkan tugas yang kubuat tadi malam itu.
Saat Minchi songseonim masuk ke dalam kelas, aku di kagetkan dengan sesosok hantu yang mengikuti Minchi songseonim. Mataku terbelalak seketika dan terpaku melihat namja itu.
“Yaa!! Kau kenapa ada disini?!” bisikku dengan sangat pelan. Tapi hantu itu malah tidak perduli dengan ucapanku. Ia masih terus mengikuti Minchi songseonim.
“Waeyo Hyun Min~a?” tanya Minchi songseonim yang melihat aku.
“Eoh? Animida~ gwenchana..” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang rasanya gatal. Bukan karna aku tidak keramas, tapi karena keringatku yang membuat kepalaku jadi gatal.
“Baiklah, apa kita bisa memulai pelajarannya?” tanya Minchi songseonim.
“Ne~” jawab semua murid. Mataku masih tidak lepas dari Hyun Joong.
“Silahkan kumpulkan pekerjaan kalian ke depan. Bagi yang saya panggil, silahkan maju ke depan dan menjelaskan apa yang telah di tulis,” jelas Minchi songseonim.
“Ne~” kata kami semua.
“Baik, Hyun Min, silahkan jelaskan apa yang kamu tulis ini,” suruh Minchi songseonim yang membuatku terkejut. Pasti ini gara-gara aku melihatnya dari tadi. Haish!
“Ne songseonim,” balasku sembari berjalan ke depan kelas. Hyun Joong tampak senang melihat aku di suruh maju.
“Annyeonghashimnika~ Choneun Park Hyun Min-imnida. Saya berdiri di depan ingin menjelaskan tentang karya tulis yang saya buat. Disini saya mengambil konsep horror. Karna menurut saya, karya tulis tidak selalu menceritakan tentang percintaan, kehidupan, dan apapun yang sering kita temui. Memang tidak jarang karya tulis bertemakan horror. Dan blablablabla…” jelasku panjang lebar.
Di tengah-tengah aku presentasi, aku melihat Hyun Joong sekilas. Ia mengganggu konsenterasiku karna ia melakukan hal yang membuatku ingin tertawa. Kalian tau apa yang ia lakukan? Ia menunjukkan bokongnya di hadapan Minchi songseonim.
Dan puncaknya, tawaku tak tertahan lagi. Aku tertawa dengan mantapnya dan membuat semua orang menatapku aneh. Aku langsung menutup mulutku.
“Hyun Min! Kenapa kamu tertawa?!” tanya Minchi songseonim yang membuatku langsung terdiam.
“Chosuamnida songseonim. Aku tidak sengaja,” jawabku takut.
“Memang ada yang lucu? Eoh?! Apa yang kamu tawakan?” Minchi songseonim mulai menampakkan tampang marahnya.
“Ani, chosuamnida songseonim,” kataku. Dan aku melihat sekaligus mendengar Hyun Joong yang buang angin di depan Minchi songseonim.
“Hahahaha….!” tawaku membahana di kelas.
“Yaa!! Hyun Min!! Apa yang sedang kau tertawakan? Apa kau sedang menertawakanku?! Eoh?!”
“Chosuamnida songseonim. Chosuamnida,” aku menundukkan kepalaku sebanyak mungkin.
“Sekarang, keluar dari kelas saya! Kha!!” Minchi songseonim mengusirku. Aku berjalan lesu keluar dari kelas.
‘Haish! Dasar hantu sialan! Ck! Ini semua karna dia!! Eomma~ aku salah membantu hantu itu,’ pikirku kesal. Aku berjalan ke dalam Hall yang besar dan dimana aku bisa sendiri. Ani, bersama piano disitu. Huh! Aku duduk di kursi piano dan menundukkan kepalaku di antara tuts-tuts yang berwarna hitam dan putih.
Tanpa kusadari, Hyun Joong sudah duduk di sampingku dan memainkan sebuah lagu. Aku melihat ke arahnya.
“Eoh? Kau bisa bermain piano?” tanyaku. Hyun Joong mengangguk dan masih memainkan piano tersebut. Aku cuma bisa mendengus kesal sambil menopang daguku. Menikmati permainan jari Hyun Joong yang begitu fasih memainkannya. Aku ikut terbawa suasana dengan memejamkan kedua mataku.
“Hyun Joong~a,” panggilku.
“Eoh?”
“Kapan kau belajar bermain piano?” tanyaku.
“Ehm… Molla. Aku hanya memencet nada-nada ini, dan aku sama sekali tidak belajar,” jawab Hyun Joong.
“Jinjjayo?! Woooaah! Daebak!” mulutku terbuka mengagumi keahliannya bermain piano.
“Kau sendiri? Alat musik apa yang bisa kau mainkan?” tanya Hyun Joong.
“Obseoyo~ haahaha…” tawaku sedikit malu.
“Ch! Pabbo!” kata Hyun Joong yang membuatku terdiam seketika.
“Yaa! Araseo! Aku memang tidak berbakat dalam seni! Tidak sepertimu! Kau hantu saja mempunyai bakat! Kau puas?!” umpatku.
“Yep! Benar sekali! Kau sadari itu!” balasnya.
“Haish! Sepertinya kau benar-benar hantu yang tingkat kepede-annya kelebihan! Baru kali ini aku menemui hantu sepertimu!” seruku kesal.
“Sudahlah! Kau jangan iri padaku!”
“Mworago?! Haish! Ckckck~ Ye-ye, terserah apa katamu!” aku berjalan pergi meninggalkannya.
Di tengah Hall, Hyun Joong memainkan pianonya dan membuat langkahku terhenti. Aku benar-benar terkesan dengan keahliannya ini. Aku berbalik arah ke tempat tadi.
“Hyun Joong~a, apa kau bisa memainkan piano ini setiap aku sedang kesal?” ucapanku keluar begitu saja tanpa ku pikir-pikir.
“Eoh? Wae? Kau menyukainya?” tanya Hyun Joong. Aku mengangguk malu-malu.
“Geuraechi? Kalau begitu, araseo. Aku akan memainkan piano ini untukmu,” balas Hyun Joong membuat senyuman di bibirku mengembang.

***

Author P.O.V

Ini sudah 2 minggu Hyun Min dan Hyun Joong bersama. Hyun Joong terus mengikuti kemana Hyun Min pergi. Kecuali sewaktu Hyun Min mandi. Karna Hyun Min sudah berjaga-jaga pada Hyun Joong agar ia tidak mengintip saat Hyun Min mandi. Kalau Hyun Joong mengintip, ia bersumpah akan mencabut bulu kaki Hyun Joong.
Hari ini Hyun Min menjalankan hari-hari seperti biasanya. Naik bus, sampai sekolah, dan duduk anteng di kursinya. Itulah yang Hyun Min lakukan tiap harinya.
“Yaa! Hyun Min~a, kau yeoja yang kuper ya di sekolah ini? Apa kau tidak bosan menjalani kehidupan hanya seperti ini? Duduk di kursi dan diam sambil membaca buku. Ckckck..” seru Hyun Joong meledek Hyun Min.
“Ck! Kau lebih baik diam! Jangan banyak bicara! Aku tidak mau disangka gila hanya karna berbicara sendiri!” balas Hyun Min setengah berbisik.
“Haish! Shiruo! Aku tidak bisa diam!” kata Hyun Joong sembari terbang-terbang di samping Hyun Min.
“Hyun Min~a!!” panggil Hye Li yang tanpa sepengatahuannya bahwa ia sudah menabrak Hyun Joong.
“Ehm? Waeyo?” jawab Hyun Min sembari menahan tawanya.
“Ani~ Ke Perpustakaan yuk?” ajak Hye Li.
“Ehmm, mau apa?” tanya Hyun Min.
“Mau makan! Yaah mau baca buku laah!!!” jawab Hye Li membulatkan matanya yang belok.
“Araseo! Kajja!” Hyun Min menerima ajakan Hye Li.
Hyun Min dan Hye Lipun berjalan ke perpustakaan dengan di ikuti Hyun Joong di belakangnya.
“Hyun Min~a, kenapa aku merinding ya?” Hye Li memegang tengkuk lehernya.
“Ehm? Jinjja? Aniyo~” jawab Hyun Min sembari melihat Hyun Joong yang sedang di samping Hye Li.
“Aaah~ mungkin hanya perasaanku saja. Palliyo~” Hye Li menarik tangan Hyun Min.
Sesampainya di perpustakaan, Hyun Min dan Hye Li membaca buku yang masing-masing mereka pegang. Hyun Min tertarik dengan sebuah buku yang sudah sedikit kusam dan terbilang lama. Karna lembaran buku itupun sudah coklat. Buku itu menceritakan tentang seorang manusia menyukai namja yang sudah menjadi hantu. Hyun Min sangat tertarik dengan cerita itu sampai-sampai ia tidak menanggapi Hyun Joong yang sejak tadi berceloteh tidak karuan kepadanya.
“Hyun Min~a!! Kau serius sekali membacanya! Sudahlah! Aku tidak punya teman nih!!” rengek Hyun Joong sambil menarik-narik kaki Hyun Min seperti anak kecil yang meminta susu.
“Haish! Yaa! Hyun Joong~a!! Sudahlah! Jangan ganggu aku dulu!” teriak Hyun Min seketika. Dan dengan cepat, semua mata menuju pada Hyun Min. Wajah Hyun Min langsung memerah malu.
“Waeyo Hyun Min~a? Kau kenapa marah-marah sendiri?” tanya Hye Li sedikit berbisik.
“Ani! Igeo, aku hanya terlalu menghayati cerita ini. Makanya aku sampai berteriak seperti ini,” jelas Hyun Min yang jelas-jelas berbohong.
“Ckckck… Kau seperti orang gila saja!” rutuk Hye Li.
“Mian..” balas Hyun Min sembari membungkukkan badannya. Hyun Min langsung mencari Hyun Joong yang kini sudah kabur dari tempatnya tadi. Hyun Min bersumpah akan mencabut bulu kaki Hyun Joong bila bertemunya.

***

Hyun Min P.O.V

Aku berjalan pulang ke rumah. Sejak tadi batang hidung Hyun Joong masih belum terlihat. Kalau saja aku bertemu dengannya, matilah dia di tanganku. Geundae! Bukankah dia sudah mati? Mana mungkin dia mati dua kali. Pabboya!
Aku melangkahkan kakiku masuk. Kehadiranku langsung di sambut dengan keadaan yang benar-benar tak bisa kubayangkan. Eomma?
“Eomma~” panggilku dengan tubuh eomma yang sudah terlungkup dengan darah di sekitar tubuhnya.
“Eomma!!!” aku berteriak tak karuan. Air mataku mengalir seketika saat menyadari keadaan eomma yang sudah tidak bernapas lagi.
“Eomma~ ireona, chebal…” pintaku. Mataku terpaku melihat sebuah tulisan yang ada di kaca lemari. Tulisan berwarna merah yang bisa ku tebak itu adalah darah eommaku.
‘KAU! JANGAN PERNAH MELAPORKAN KE POLISI TENTANG HAL INI! TERMASUK KASUS NAMJA YANG KAMI BUNUH! KALAU KAU MELAPORKANNYA, KAMI BERSUMPAH AKAN MEMBUAT HIDUPMU TIDAK AKAN TENANG DAN JUGA KAMI AKAN MEMBUATMU MATI DI TANGAN KAMI!’
Yah, tulisan itu membuatku sangat terpukul dan marah. Ini semua karna kejadian itu! Dan berarti yang membunuh eomma adalah sama dengan yang membunuh Hyun Joong.
“Eomma!!” teriakku menangisi nasib eommaku. Ini semua karna aku! Kalau saja waktu itu aku tidak berurusan dengan kasus itu. Eomma tidak akan pergi meninggalkanku! Aaah~!
“Hyun Min~a!” teriak seseorang. Aku melihat Hyun Joong berdiri di sampingku.
“Waeyo?” tanyanya. Aku menatapnya penuh kemarahan.
“Hyun Min?” Hyun Joong memegang pundakku. Aku menyentakkan tangannya kasar.
“Ini semua karna kau! Ini semua karna kematianmu! Aku tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang telah membunuh eommaku! Termasuk kau!!!” teriakku penuh nada kebencian. Hyun Joong berjalan mejauhiku. Aku masih menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.

Sudah hampir dua minggu sejak kematian eommaku, aku hidup sendirian di rumah. Aku tidak pernah lagi melihat Hyun Joong. Itu membuatku semakin merasa sendirian. Aku tau apa yang ku lakukan waktu itu benar-benar membuatnya marah. Tapi aku pun juga seperti itu. Aku marah dengannya. Kenapa waktu itu ia tidak datang menolong eommaku. Yang jelas-jelas itu ada sangkut pautnya dengan kematiannya.
Aku duduk sendirian di meja makan. Memakan sepiring nasi dan telur yang ku buat. Biasanya eomma selalu memasakanku makanan sebelum aku pergi sekolah. Tapi sekarang aku harus memasak sendiri apa yang ingin ku makan.
Tanpa terasa air mataku kembali membasahi pipiku. Aku menghapus air mataku dan berjalan membereskan piring-piring lalu pergi ke sekolah. Inilah pekerjaanku sekarang.
Kakiku membawaku melewati tempat Hyun Joong di bunuh. Kembali terngiang kejadian waktu itu.
“Apa lagi rencana kita bos? Kita sudah membunuh ibu anak itu! Dan tidak menutup kemungkinan anak itu tidak melaporkan kita ke polisi,” suara berat menghentikan langkah kakiku lagi. Aku langsung berpikir bahwa itu orang-orang yang telah membunuh Hyun Joong dan juga eommaku. Aku menguping pembicaraan mereka.
“Sebelum yeoja itu melaporkan kita ke polisi, aku akan membunuhnya terlebih dahulu! Aku tidak akan membiarkannya! Apalagi yeoja itu sekarang tinggal hanya sendirian, jadi akan memudahkan kita untuk menghabisinya!” jawab namja satu lagi. Jantungku langsung berdegup cepat mendengar kata-kata itu. Berarti aku akan di bunuh mereka? Eotthokaji? Aku tidak ingin mati konyol karna mereka! Aku berjalan mundur hendak meninggalkan tempat ini. Buuukkk!! Tumpukkan kayu yang ada di belakangku jatuh dengan tepatnya akibat kakiku. Secepat mungkin aku berlari meninggalkan tempat ini menuju sekolahan.

Sesampainya di sekolah, aku langsung terduduk di bangkuku. Masih dengan napas tersengal-sengal. Kata-kata itu masih terngiang jelas di telingaku.
“Hyun Min~a, wae? Gwenchana?” tanya Hye Li yang duduk di sampingku.
“Eoh? Ne, gwenchana~” jawabku meyakinkannya.
“Geurae? Baiklah kalau begitu,” ucap Hye Li. Mataku masih menerawang ke depan.
‘Aku harus tau apa cerita sebenarnya? Aku harus bertemu dengan Hyun Joong. Agar semuanya jelas. Aku tidak ingin berurusan seperti ini,’ pikirku. Aku berlari ke Hall sekolahku. Ku abaikan panggilan Hye Li.
Di Hall hanya ruangan kosong dengan piano yang menghiasinya. Yah, inilah tempat yang selalu membuatku tenang.
“Eomma~ Hyun Joong~ Apa kalian ada disini? Aku takut.. Aku tidak mau berada dalam keadaan seperti ini. Tolong aku..” tangisku pecah seketika. Aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku takut.
Teng..Teng..Teng..Teng..
Suara piano yang membuatku terkejut dan sontak melihat piano itu. Napasku tidak beraturan masih tidak menyangka kejadian ini. Apa mungkin itu adalah..
“Hyun joong~a?” panggilku. Aku berjalan ke kursi piano dan benar saja mendapatkan sosok Hyun Joong yang memainkan piano itu.
“Hyun Joong~a!!!” aku berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.
“Aaah~ kemana saja kau?! Kau tidak tau betapa aku ketakutannya sendirian di rumah! Dan kau tau bahwa nyawaku sekarang sudah tidak aman lagi! Aku bisa terancam mati sepertimu!” aku terus memarahinya. Sedangkan Hyun Joong hanya tersenyum melihatku.
“Mianhe Hyun Min~a.. Benar katamu, ini semua karna aku. Seandainya kau tidak membantuku, tidak akan membuatmu sedih dan kehilangan eommamu. Ini semua salahku,” ucapnya.
“Huuhuhu… khajima! Aku takut sendirian!” tangisku.
“Mianhe.. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Eoh?” balas Hyun Joong sembari menghapus air mataku. Aku mengangguk setuju.
“Hyun Joong~a, kau belum menceritakan kepadaku. Apa penyebab orang-orang itu membunuhmu?” tanyaku.
“Eoh? Kau benar-benar ingin tahu?”
“Ehm!” aku mengangguk cepat. Mata Hyun Joong melihat lurus ke depan.
“Waktu itu aku berjalan ingin pergi ke sekolah. Dan tiba-tiba saja orang-orang itu menculikku dan memukuliku hingga aku seperti ini. Karna waktu itu aku pernah menolong orang yang ingin mereka bunuh. Hingga sekarang malah kebalikannya, justru aku yang di bunuh oleh mereka,” jelas Hyun Joong.
“Jadi kau sebenarnya tidak salah? Malah kau bermaksud baik tapi malah kau yang terbunuh? Geurae?” tebakku. Hyun Joong mengangguk.
“Hoah~ mungkin kalau aku mati, kasusku sama sepertimu. Iya kan?”
“hahaha… Iya mungkin. Aku tau kau tadi mendengar pembicaraan orang-orang yang membunuhku. Makanya kau ketakutan sekarang,” tutur Hyun Joong.
“Ehm! Eotthokaji?”
“Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu mati sepertiku. Aku akan membantumu untuk membuat mereka masuk ke penjara. Tenang lah..” Hyun Joong berusaha menenangkanku. Aku tersenyum senang.
“Gomawo Joong~a, geuraedu mianhe telah memaki-makimu kemarin,” kataku padanya.
“Gwenchana. Kau tidak belajar?” tanya Hyun Joong yang sontak membuatku menepuk keningku.
“Aaah~ aku pergi dulu! Annyeong!!” aku berlari meninggalkannya.

Sepulang sekolah aku sengaja berjalan melewati tempat tadi pagi. Hari ini aku ingin menjebloskan orang-orang tak berperasaan itu mati membusuk di penjara. Tak akan kubiarkan orang-orang yang ku cintai menderita karna mereka. Ehm? Orang yang kucintai? Apa maksudnya? Aah~ lupakan!
“Yaaa!!! Keluar kalian! Aku akan melaporkan kalian ke kantor polisi!” seruku dengan lantang. Tiba-tiba orang-orang itu keluar dengan wajah sombongnya. Rasanya ingin sekali aku membunuh mereka dengan tanganku mengingat eommaku yang meninggal karna mereka.
“Ternyata kau? Baguslah kalau kau datang sendiri! Kami tidak payah-payah mencarimu susah-susah!” ucap namja itu sembari berjalan mendekat ke arahku. Aku mengambil ancang-ancang siap menendang mereka dan berlari.
“Kyaaa~!!!” aku menendang selangkangan mereka lalu berlari pergi. Seperti pemikiranku, pasti aku akan di kejar oleh mereka. Secepat mungkin aku berlari menuju pos polisi.
“Yaa!! Berhenti kau perempuan sial!!” teriak orang-orang itu. Aku terus berlari. Menerobos kerumunan orang-orang.
“Minggir!!” teriakku pada setiap orang.
“Chosuamnida~ Minggir!!” terus-terus aku berteriak. Dan akupun sudah melihat pos polisi terdekat.
“Ahjussi!!!” teriakku pada para polisi yang ada disana. Polisi itupun keluar dan melihat aku. Orang-orang yang mengejarku sudah berada di sampingku dan menangkap tanganku.
“Waeyo?” tanya mereka.
“Aah~ aniyo. Ini anak saya ingin main kejar-kejaran. Kami pergi dulu. Maaf merepotkan,” orang-orang itu menarik tanganku. Aku masih melihat ke arah polisi itu penuh harap. Tapi inilah takdirku. Aku akan mati sekarang.
Tubuhku di lempar keras hingga tanganku terluka.
“Kau ingin melaporkan kami? Eoh?! Tidak akan bisa! Kau sendiri yang menyerahkan nyawamu kepada kami!” teriak namja itu sambil mencekik leherku. Hatiku berteriak memanggil Hyun Joong. Aku takut sekali.
“Kau mau mati seperti eommamu?! Hah?!” namja itu semakin menguatkan tangannya.
“Tch!” aku meludahi wajah namja itu.
“Yaa!! Perempuan brengsek! Plaakk!” aku menerima tamparan telak di pipiku.
“Ku bunuh kau!!” namja itu kembali mencekik kencang leherku.
“Aah~” aku berusaha untuk melepaskan tangannya yang besar.
“Angkat tangan kalian semua!!!” teriak polisi yang tiba-tiba membuat namja itu ketakutan.
“uhuk! Uhuk!” aku terbatuk mencoba membiarkan udara masuk ke paru-paruku.
“Tangkap mereka!” suruh seorang polisi.
“Shit! Ini semua karna kau!” teriak namja itu ke arahku. Tapi aku sudah puas kini mereka sudah di tangkap. Geundae, siapa yang memberitahukan kepada polisi itu?
“Aku,” jawab seseorang yang bisa ku tebak itu adalah Hyun Joong.
“Hyun Joong~a!” aku berlari memeluknya. Aku menangis di pelukannya. Aku takut.
“Gwenchana?” tanyanya.
“Ehm! Gomawo Hyun Joong~a.. Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah mati. Gomawo,” jawabku.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kalau tidak ada kau, aku tidak akan tenang sekarang. Aku sudah bisa istirahat dengan tenang dan tidak akan mengganggumu lagi,” bisik Hyun Joong.
“Maksudmu? Kau bisa istirahat dengan tenang?” aku tidak mengerti dengan perkataannya.
“Aku bisa tenang karna orang yang sudah membunuhku di tangkap. Gomawo Hyun Min~a..” ucapnya yang membuatku terkejut.
“Jadi, kau akan pergi untuk selamanya?” tanyaku. Hyun  Joong mengangguk tersenyum.
“Andwe! Kau bilang tidak akan meninggalkanku! Tapi nyatanya kau pergi!” teriakku tidak terima.
“Aku tidak akan pergi Hyun Min. Aku akan selalu ada di hatimu. Eoh? Aku pergi.. Jangan menangis.. Gomawo Hyun Min~a..” tutur Hyun Joong.
“Andwe! Andwe Hyun Joong~a!!” tapi semua di luar kendaliku. Hanya terpaan angin yang menjawabnya. Hyun Joong sudah pergi.
“Hyun Joong~a…” rintihku. Aku melihat cincin yang di berikan Hyun Joong kini sudah hilang. Tidak ada di jariku.
“Aaahh~!!” teriakku.
 THE END



Tidak ada komentar:

Posting Komentar