Selasa, 15 Januari 2013

CERITA LUCU


 Sumber :CARA MEMBUAT STATUS BIRU MENGGUNAKAN HANDPHONE.LIHAT DI SINI




**- Do you speak English?
> Yes!

- Name?
> SUDRUN.

- Sex?
> 3 to 5 times a week.

- No, I mean..male/female?
> Yes, male, female and sometimes camels.

- Holy cow!
> Yes, cows, sheep...Animals in general.

- Oh dear?!
> No, deer runs too fast!



**
Misteri Bukit Tengkorak..

Bos: "Drun, kenapa kemarin ga masuk kerja?"

Sudrun: "Kemarin saya jatuh dari motor bos"

Bos: "Owh.. Trus motornya gapapa?"

Sudrun: "Motornya si gapapa, tapi nih kaki saya patah, muka lecet2, dagu 4 jaitan, gigi saya copot 3..."

Boz: "Syukurlah...

Sudrun: "Lho Bos, kok mlah disyukurin sih?!!"

Bos: "Ya syukur kamu jatuhnya ke bawah masih banyak rumh sakit. Coba kalo jatuhnya ke atas? Bisa Ilang kamu Drun. Jangankan Rumah Sakit, puskesmas aja nggak ada kan di atas?"

Sudrun *melongo dongo*garuk2 rambut ketek*: "Mending kita brantem aja yu' bos di kasur



**
Sepasang suami istri datang ke konseling perkawinan On Clinic karena merasa hambarnya rumah tangga mereka. Setelah diperiksa, ternyata dalam setiap permainan cinta si istri terlalu pasif. Oleh petugas konseling, si istri dinasehati untuk lebih responsif dengan mngeluarkan suara keluhan saat bercinta.

Malamnya langsung dicoba, pas gituan suami beri aba2: "Ayo Ma, cepat mengeluh..."

Istri: "Aduuuh Papiii... Tau ga tadi di pasar pusiiing deh, segala macam barang naik, dari minyak, telur, cabe, terong. Mabok deh kalo gini terus. Mana pasarnya becek, ga ada ojek...

Suami: *gulingin ranjang*

KATA KATA MUTIARA






BY : HARDIYANTI RIBERU

* Semangatku adalah kamu, Alasanku untuk tersenyum hari ini adalah kamu.
dan kekuatanku untuk bertahan menghadapi mereka yang membenciku adalah kamu

*Suka jadi duka, Kekaguman jadi kekecewaan.
Tapi cinta akan tetap menjadi cinta seberapapun duka dan kekecewaan yang dirasa .

*Rindu untuk mu bukan Hanya tak terbalas.
Namun juga tak terbatas

*Mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari kejauhan

*Aku takut ..
semua ini hanyalah iusi yang ku bangun dalam fikiranku sendiri ..
karna kau serupa angin yang kadang membelai ..
perasaan lembut, namun kadang membuatku takut terhempas terlalu keras karena kau dan tanda tandamu yang tidak jelas . tidak memberiku alasan untuk berharap terlalu banyak ..

Minggu, 13 Januari 2013

Don’t Go !!


SAYA BUKAN AUTHOR DARI FF INI .
SAYA HANYA MENGSHARE FF




Title : Don’t  Go!!
Author : Ayu  Puspitaningtyas
Genre : Drama, Romance
Part : 1/1 (1s)
Rated : Teenager
Casts :
-Kim  Hyun  Joong  ( SS501 )
- Choi hye won (author)




 Aku  berlari sekencangku  bisa. Aku lupa bahwa aku ada jam kuliah hari ini. Tapi aku justru asyik-asyikkan membaca komik di taman belakang kampus. Bagaimana aku tidak bisa lupa waktu? Cerita komiknya itu lucu banget. Belum lagi ditambah lokasi tempatku baca itu di bawah pohon rindang dengan karpetnya adalah rumput-rumput hijau yang lembut. Sejuk bangetlah dan semakin membuatku betah.
BRUUK!!
“Aduh!” seruku.
Kakiku menyandung sesuatu dan aku pun terjatuh. Saat aku menoleh aku mendapati seorang namja yang sedang tidur di balik pohon-pohon perdu yang aku lewati. Tapi apa-apaan namja ini? Tidurnya pulas sekali. Bahkan saat kakiku menyandung dan badanku menimpa kakinya dia enggak juga terbangun. Giila! Dia tidur atau pingsan, sih? Akupun perlahan bangun dan justru mendekatinya. Aku ingin mengamati wajahnya lebih dekat lagi, karena capuccon(*mian kl tulisannya slh.aku krg tau bgmn nulis buat topi yang ada dijaket seperti yg aku mksud) yang ia kenakan cukup membuatku tak bisa dengan jelas melihat wajahnya. Sebenarnya aku hanya ingin pastikan apakah dia benar-benar tidak terganggu dengan kejadian barusan? Aku membuka capucconnya dengan hati-hati. Aku takut kalau nantinya dia terbangun.
Dan…. mwo?? Ternyata dia benar-benar tidur dengan pulas! Tapi sebentar!! Kalau dilihat-lihat lagi, namja satu ini lumayan juga, lhoh. Eh salah! Bukan hanya lumayan. Tapi dia sangat tampan. Ada sentuhan cantik dan tampan di wajah yang seperti malaikat ini. Aku jadi semakin tertarik untuk terus melihat wajahnya. Tanpa aku sadari, tanganku bergerak menyentuh pipinya yang mulus banget. Beda banget dengan wajahku yang sedikit berjerawat (*tapi hanya sedikit, kok… beneran, deh! hehehe…).
BREK!
“Mwo?”
Aku benar-benar kaget. Karena tiba-tiba namja ini berbalik dan tangannya seperti merangkulku dan membuatku jatuh tertidur di sampingnya. Aku menoleh ke arahnya dan dia masih seperti tadi. Tidur dengan pulas. Wajah kami benar-benar dekat. Jantungku serasa ingin berlari marathon saat ini. Omo… apa yang terjadi dengan jantung dan otakku? Kenapa imajinasiku jadi bermain-main gak karuan ya melihat wajah malaikatnya ini? kyeowi…>.<
“Yaa! Choi hye won! Apa yang sedang ada di otakmu hah? Pikiranmu mau melayang sampai mana?!” teriakku dalam hati mencoba menyadarkanku dari dunia khayal.
Aku tepis tangan namja tukang tidur itu yang masih saja merangkul badanku.
“Nuguseo?”
Sepertinya aku mendengar suara seorang namja? Dan saat aku menoleh, aku mendapati namja yang sedari tadi tidur pulas di sampingku itu sudah terbangun. Hiiiaaa! Jeritku dalam hati. Saking terkejutnya aku langsung berdiri sembari membenahi pakaian dan rambutku. Namja itu terus melihat ulahku dengan bingung juga penasaran.
“Nuguseo?” Tanya namja itu sekali lagi.
“Jo… joneun Choi hye won imnida,” ucapku sembari sedikit membungkuk.
Pabo! Apa yang aku lakukan? Kenapa malah memperkenalkan diri? Rutukku sembari memukuli kepalaku pelan.
“Hye won??” Tanya namja itu masih sedikit bingung. Sepertinya dia belum sepenuhnya berada dalam dunia nyata, nih.
Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang bergetar di saku celanaku. Oiya! Itu ponselku yang bergetar. Saatku lihat ternyata ada satu pesan masuk yang berasal dari Seohyun, sahabatku.
Kamu dmn sih?sdh msk nih.bruan!
Aigoo…aku lupa! Akukan ada jam kuliah! Tanpa banyak basa-basi aku langsung berlari sekencang-kencangnya lagi menuju kelasku yang berada di lantai 3. DOOENG!!
~ ~ ~
@Kantin kampus
“Mwo? Bagaimana bisa? Kamu ini aneh-aneh aja, Hye won,” seru Seohyun begitu selesai mendengar ceritaku.
“Waeyo? Aku tidak berbuat apa-apa. Justru namja itu yang aneh. Waktu aku kesandung kakinya dia gak bangun. Tapi tiba-tiba waktu gak ada angin gak ada hujan, dia tau-tau udah bangun dan tanya aku siapa. Ya, aku jawab aja.”
“Terus, kamu gak tanya balik siapa namanya?”
“Enggak. Aku langsung pergi.”
“Mwo? Pergi? Begitu saja?”
“Ne…,” jawabku cuek sembari mengangguk. “Aigooo….!!” Seruku sejurus kemudian yang langsung membuatku berhenti mengunyah kim bab-ku.
“Wae?”
“Tadi aku pergi tanpa pamit,” jawabku sembari membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu itu.
Benar…, aku memang langsung pergi begitu membaca pesan singkat dari Seohyun tadi.
“Aist…, dasar kau ini! Itukan tidak sopan.”
“Hehehe…. Aku lupa…,” ucapku sambil meringis gak jelas.
~ ~ ~
Mata kuliah hari ini sungguh membosankan. Aku tidak suka sama sekali. Aku alihkan pandangan mataku di luar jendela. Kebetulan aku memang memilih tempat duduk di dekat jendela. Aku lebih suka melihat keramaian yang ada di luar sana. Apalagi kalau aku bisa duduk-duduk di bawah pohon yang ada di taman belakang kampus sambil baca komik ditemani dengan camilan. Hmmm… Eit! Sebentar! Ngomong-ngomong soal taman kampus, aku jadi teringat dengan namja yang aku temui kemarin. Dia siapa ya? Aku ingin ketemu dia lagi. Aigoo…, tapi aku masih malu karena sikapku yang kurang sopan itu. Mmm? Lamunanku buyar ketika mataku terusik dengan seorang namja yang kebetulan lewat depan kelasku.
Hm…. Namja yang barusan lewat itu lumayan juga. Sepertinya wajahnya juga gak asing lagi, deh. ___Mmmm…. ‘TIDAK ASING?!’__ TIDAK ASING!! Mataku terbelalak ketika aku sadar bahwa namja yang baru saja lewat itu adalah namja yang kemarin! MWO?! Wae? Wae dia berbalik? Omo,omo…. Omo…. Aku kebingungan sendiri saat melihat namja itu tiba-tiba berbalik dan berjalan mendekati jendela tepat di mana aku berada. Aku jadi salah tingkah sendiri. Aku ambil buku yang sedari tadi hanya kugeletakkan di atas meja untuk menutupi wajahku darinya. Meski aku tahu sebenarnya itu semua sia-sia.
“Eootokhae??” gumamku.
“Wae, Hye won-ah?” tanya Seohyun yang bingung melihat ulahkku.
Aku hanya diam sembari menggelengkan kepalaku. Diam-diam aku mencoba melihat situasi di luar jendela dari balik bukuku. Dan ternyata….
“Annyeong…!” sapa namja itu sembari melambaikan tangannya dari balik kaca jendela.
Meski aku tak mendengar suaranya tapi aku tahu dia mengucapkan itu. Omo…, senyumnya sungguh menggoda. Killer smile…. Jantungku jadi ingin marathon lagi. Tingkahnya yang seperti itu spontan mengundang perhatian teman-teman sekelasku. Aku semakin menyembunyikan wajahku di balik buku. Aku tidak mau terlalu percaya diri sampai-sampai memutuskan bahwa dia menyapaku. Aku pasti terlalu banyak berkhayal, nih.
“Dia gila, ya?” tanya Seohyun padaku sambil menatap aneh pada namja itu.
“Aku tidak tau dan tidak mau tau.”
“Tapi Hye won, sepertinya yang disapa namja itu kamu, deh?”
“Mwo? Andwae….”
Aku terkejut saat mendengar ucapan Seohyun. Tapi mau tidak mau karena penasaran, aku memberanikan diri untuk menoleh ke samping dan mendapati namja itu sedang mengetuk pelan kaca jendela di sampingku.
“Haaiii!” sapanya riang begitu aku menoleh ke arahnya. “Ingat aku?”
Aku rasa kali ini aku memang tidak salah pikir lagi. Namja itu memang … menyapaku!! Omo!!! Aku hampir gila karena terlalu senang. Aku gak jelas banget, sih. Kenapa juga aku bisa sesenang ini? Tapi tanpa ragu-ragu dan banyak pikir lagi, aku tersenyum padanya sembari menganggukkan kepalaku dengan malu-malu.
“Choi Hye Won!”
O’oooo…. Sepertinya aku tau suara siapa itu. Dan benar saja, saat aku menoleh, Mr. Lee sudah ada di hadapanku. Dengan mata yang melotot serta wajah menyeramkannya, dia seakan-akan siap untuk melahapku!
“Mr. Lee… Jonsunghamnida…,” ucapku lirih sembari menundukkan kepala.
“Anyeonghaseyo…,” salam seorang namja yang baru saja masuk ke dalam kelas.
Suaranya yang tiba-tiba terdengar di saat Mr. Lee sedang marah membuat seisi kelas langsung menoleh ke arahnya dan aku adalah orang yang paling terkejut di antara semuanya. Bagaimana tidak? Dia adalah namja yang baru saja membuatku dibentak oleh Mr. Lee.
“Nuguseo?” tanya Mr. Lee garang.
“Joneun Kim Hyun Joong imnida,” jawabnya dengan tenang sembari membungkuk. “Jonseunghamnida karena saya telah mengganggu pelajaran hari ini. Mohon jangan menghukum Choi Hye Won-ssi. Ini semua murni kesalahan saya.”
~ ~ ~
@Taman Belakang Kampus
“Gamsahamnida…,” ucapku begitu berhadapan dengan Hyun Joong-ssi setelah jam kuliahku usai.
“Cheonmaneyo…,” jawabnya ramah. “Memang itu yang seharusnya aku lakukan. Karena aku yang sudah membuatmu dimarahi Mr. Lee.”
“Ne…. Karenamu, aku hampir saja ditelan bulat-bulat olehnya,” candaku.
Dia tertawa. Tawa yang sungguh membuatku meleleh. Beruntung wajahku tidak mudah memerah.
“Oh, ya, tadi pagi kenapa kamu tiba-tiba bisa ada di sampingku waktu aku tidur?”
“Mwo?” tanyaku spontan saat mendengar pertanyaan itu.
Aigoo…. Aku mati kutu. Bagaimana aku harus menjawabnya? Tadi itukan sangat memalukan.
“Hye won-ssi?” tanya Hyun Joong sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahnku saat tak mendapati aku segera menjawabnya yang justru melamun.
“Wae? Oh…, miane…. Tadi aku …,” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal berharap aku bias menjawab pertanyaannya dengan tepat.
“Hahahahaa…. Sudahlah. Tidak perlu dijawab, kok,” kata Hyun Joong saat melihatku kebingungan menjawab pertanyaannya.
Saat mendengarnya aku hanya bisa meringis gaje karena malu. :”)
~ ~ ~
Sejak saat itu aku sering bertemu dengan Hyun Joong yang ternyata adalah kakak tingkatku. Wah, sepertinya aku terlalu memperhatikan komik-komikku selama ini sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada namja setampan tokoh-tokoh komik berkeliaran di sekitarku. Paboya! Kenapa gak dari dulu aja ya aku kenalnya dia? Hufh…, tapi beruntunglah aku masih sempat mengenalnya. Daripada tidak sama sekali. Xixixixixixixix… ^_^
“Mau kemana?” tanya Hyun Joong oppa mengagetkanku karena tiba-tiba saja dia sudah berjalan di sampingku.
“Mau ke taman belakang. Oppa sendiri mau ke mana?”
“Sama.”
“Pasti mau tidur lagi ya?” tebakku sok tau.
“Hahahaha…. Kamu tau aja. Kamu juga pasti mau baca komikkan?”
“Hahahaha…. Kamu tau aja,” timpalku dengan meniru gaya Hyun Joong oppa berbicara tadi.
“Hahahaha, kau lucu sekali. Mau menemaniku?”
“Mwo?”
“Maksudku bacalah komikmu di sampingku. Mungkin aku bisa tidur lebih nyenyak,” jawab Hyun Joong dengan senyumnya yang manis.
* * *
@Taman belakang kampus
“Aku masih ingat saat pertama kali melihatmu yang tiba-tiba terbaring di sampingku. Aku benar-benar terkejut,” kenang Hyun Joong oppa.
Matanya menatap langit biru yang sedikit tertutup ranting-ranting pohon. Ia berbaring di sampingku dengan menggunakan tangannya sebagai bantal. Aku sendiri tetap duduk sambil sesekali melirik wajah Hyun Joong oppa yang tampan itu.
“Oppa saja terkejut, apalagi aku. Aku benar-benar nggak nyangka kalau oppa tidur itu ternyata pules banget.”
Kali ini namja itu hanya menjawab pertanyaanku dengan satu senyuman simpul.
“Kamu sendiri sedang apa ada di sekitarku waktu itu? Biasanya gak ada yang berani mengganggu tidur siangku.”
“Jeongmal? Kalau waktu itu… na neun… na neun…,” aku sedikit ragu menjawabnya. Tapi aku pikir-pikir lagi tak ada yang perlu ditutup-tutupi.
“Aku hanya penasaran kenapa oppa bisa tidur dengan sangat pulas. Padahal aku sudah menyenggol dan jatuh di atas kakimu.”
Hyun Joong oppa hanya terdiam dan lagi-lagi hanya menanggapinya dengan senyum simpul.
“Coba lihat ke atas!” katanya sembari menunjuk angkasa. “Lihatlah sembari berbaring sepertiku.”
Akupun mengikuti kata-katanya tanpa banyak pikir lagi. Kulihat langit yang hari ini begitu cerah. Ada garis putih yang melintang panjang di sana. Ada beberapa burung yang berterbangan pula.
“Di sana begitu luas dan bebas. Suatu hari nanti, aku akan berada di sana,” ucap Hyun Joong oppa tiba-tiba sembari menunjuk lurus ke atas sana dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.
Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya. Tapi aku menikmati sekali pemandangan langit siang hari ini
“Di sana? Oppa ingin tinggal di sana seperti burung, awan, matahari, dan angin yang menjadikannya tempat untuk menjalani sebagian besar hidup mereka? Oppa mau jadi yang mana? Burung, awan, angin, atau mataharinya?” tanyaku sembari ikut menunjuk ke langit luas.
Tiba-tiba Hyun Joong oppa menggenggam tanganku itu. Kali ini, dia sukses 100% membuat mukaku panas karena malu.
“Angin. Karena kapanpun itu angin selalu ada dan bisa dirasakan seperti saat ini,” jawabnya lirih sembari perlahan menutup matanya untuk merasakan semilir angin yang membelai wajah kami berdua.
Akupun mengikutinya memejamkan mata. Merasakan semilir angin yang berhembus di sekitar kami. Dan tanpaku sadari, aku pun tertidur pulas di samping Hyun Joong oppa yang juga sudah tertidur duluan. Dalam tidurku aku bermimpi, Hyun Joong oppa yang tidur di sampingku terbangun dan tiba-tiba mencium bibirku meski hanya menempelkan bibirnya pada bibirku. Dan yang aku ingat lagi, ia melakukannya cukup lama. Mimpi yang aneh…. Hehehe…^^ *plak!*
~ ~ ~
@Kampus
“Hye won!” panggil seorang namja yang rupanya adalah Hyun Joong oppa.
“Wae, oppa?”
“Besok ada waktu?”
“Kurasa ada. Wae?”
“Mau pergi ke taman hiburan denganku?”
“Mwo?”
“Kau mau’kan? Aku tunggu besok di depan taman hiburan itu jam 9 pagi. Okay?”
Begitu selesai mengatakannya, tanpa menunggu jawabanku Hyun Joong oppa pun pergi entah ke mana. Sepertinya dia bahagia sekali hari ini. Karena aku lihat dia terus tersenyum saat berbicara denganku. Hah, ya, sudahlah. Lagipula besok aku tidak ada kegiatan, jadi tidak ada alasan untukku menolak ajakannya. ^_^
@Taman Hiburan
“Miane oppa aku datang terlambat,” ucapku penuh sesal sembari mengatur nafasku lagi setelah aku berlari beberapa meter.
“Gwencanaeyo…. Aku senang kamu sudah datang. Kacca!” ajaknya sembari menggandeng tanganku melangkah memasuki taman hiburan.
Setelah membeli tiket, kami berkeliling melihat-lihat ke dalam taman hiburan. Kami berhenti di beberapa stan untuk melihat barang dagangan apa yang ditawarkan. Selain itu, kami juga mencoba beberapa wahana permainan yang ada.
“Pertama dan terakhir kalinya aku naik roller coaster,” ucapku lemas sambil duduk di salah satu kursi panjang.
“Cuma segitu aja?” tanya Hyun Joong oppa dengan wajah yang sangat puas melihatku menderita.
Aku memonyongkan bibirku tanda bahwa aku sama sekali tidak menyukai kata-katanya. Aigoo…, perutku mual sekali gara-gara naik roaler coaster itu. Aku ingin pingsan. Kupegangi perutku sembari sesekali meringis. Saat kudongakkan kepala ingin mengajak Hyun Joong oppa pulang, dia sudah tidak ada di hadapanku. Aku jadi kebingungan mencarinya. Kemana perginya? Kenapa dia tidak bilang-bilang dulu? Aku mencoba mencarinya di antara kerumunan orang banyak. Tapi takku temukan sosoknya di antara mereka. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyodorkan kembang gula tepat di depan wajahku. Saat aku menoleh, ternyata Hyun Joong oppa yang melakukannya!
“Miane…. Aku tak bermaksud membuatmu sakit, marah, ataupun takut. Jeongmal miane…,” ucapnya dengan wajah yang penuh sesal.
Aku jadi tersentuh. Aku pun menerima kembang gula yang ia belikan untukku. Karena ini memang makanan kesukaanku.
“Gwencana…. Gomawo oppa…,” jawabku sambil tersenyum padanya.
Kuharap ini adalah senyum yang terlihat manis di depannya. Hyun Joong oppa pun ikut tersenyum padaku.
“Mau aku antar pulang?”
“Ani…. Aku masih ingin bermain hari ini.”
“Mau bermain apa?”
“Biang lala. Apa oppa mau?”
“Ne….”
Aku sengaja mengajak Hyun Joong oppa naik biang lala di saat matahari akan terbenam sore ini. karena aku pernah mendengar mitos bahwa jika ada seseorang yang menyatakan cinta saat tepat berada di puncak biang lalu waktu matahari terbenam, maka cinta mereka akan abadi. Ada juga mitos yang mengatakan jika mereka berciuman pada saat itu, maka mitos yang sama juga akan terjadi. Entahlah apa yang saat ini benar-benar aku pikirkan. Aku berharap Hyun Joong oppa juga menyukaiku. Jika nanti ia tak mengatakannya, maka akulah yang akan membuat pengakuan padanya. Sudah aku pikirkan masak-masak hal ini.
Kini kami sudah berada di tempat teratas. Dan biang lala mulai berhenti berputar. Dadaku semakin berdegup kencang. Hyun Joong oppa terdiam. Sejak naik tadi tak ada yang ia ucapkan padaku. Akupun begitu. Kulihat matanya menerawang jauh menatap ke langit luas sana. Kurasa Hyun Joong oppa sangat menyukai langit. Tapi…sebentar! Apa aku tidak salah lihat? Di antara minimnya cahaya, aku seperti melihat mata Hyun Joong oppa berkaca-kaca. Dan… kilauan panjang apa itu di matanya? Air mata? Benarkah?
“Oooppa..?” tanyaku hati-hati. “Wae?”
Hyun joong oppa hanya menggelengkan kepalanya sambil mengedip-kedipkan matanya. Sepertinya dia berharap aku tak melihatnya menangis. Tapi semuanya sudah terlambat. Aku melihatnya. Tanpa bisa aku kendalikan lagi, aku menyentuh pipi Hyun Joong oppa dan menghapus air mata yang membasahinya. Ia pun menatap dalam-dalam wajahku.
“Aku tidak tau apa yang terjadi padamu oppa. Jika oppa mau, oppa bisa menceritakannya padaku. Aku hanya ingin oppa takkan pernah menangis lagi. Jika memang ada beban yang membuat oppa ingin menangis, maka menangislah sekarang. Dan saat kita sudah selesai naik biang lala ini, aku ingin melihat oppa kembali lagi tersenyum. Kalau oppa malu karena ada aku di sini, aku akan menutup mataku. Aku janji aku tidak akan coba-coba melihatnya. Lalu tersenyumlah selebar-lebarnya seperti ini. Lihatlah aku oppa!” pintaku padanya.
Hyun joong oppa menatapku yang sedang tersenyum seperti orang bodoh di depannya.
“Arraci? Karena senyum oppa itu seper….”
Kata-kataku terputus. Karena tanpa aku duga, Hyun Joong oppa mengecup bibirku. Waktu serasa berhenti berputar. Tubuhku pun terasa membeku. Tak ada yang bisa aku lakukan. Tak ada lagi pikiran yang terlintas di benakku. Yang aku sadari, Hyun Joong oppa telah menciumku. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan membiarkannya menciumku dengan lembut.
~ ~ ~
Sudah hampir satu bulan ini aku kesulitan menemui Hyun Joong oppa sejak pertemuan terakhir kami di taman hiburan beberapa minggu yang lalu. Hari itu kata terakhir yang aku dengar darinya hanya kata maaf karena telah menciumku sebelum akhirnya ia pergi setelah mengantarku pulang. Sejak saat itu ponselnya tak pernah lagi aku bisa hubungi.
Aku benar-benar bingung dengan situasi yang telah terjadi. Wae oppa tiba-tiba menghilang? Kemana dia? Kenapa tak ada sama sekali kabar? Selama ini Hyun Joong oppa memang sangat misterius. Tidak banyak yang aku tahu tentangnya. Siapa sahabat dekatnya bahkan di mana ia tinggal pun aku tak tau. Beberapa namja yang pernah aku lihat berbicara dengannya pun ku coba tanyai dan alhasil mereka juga tak tau dimana rumah dan kenapa tiba-tiba Hyun Joong oppa menghilang.
Aku nyaris putus asa. Tak ada hal yang terlintas lagi dipikiranku demi menemukannya. Setiap hari aku hanya bisa pergi ke taman belakang kampus. Tempat di mana ia biasa tidur siang. Aku menunggunya di sana. Berharap suatu saat ia akan kembali. Aku ingin mendengar kejelasan alasannya mengapa ia menciumku kemarin. Hari itu, aku belum sempat bertanya apa-apa. Karena dalam perjalanan pulang, aku dan Hyun Joong oppa hanya terdiam. Tak ada yang kami ucapkan selain ucapan Hyun Joong oppa saat tiba di depan rumahku. Hanya itu satu-satunya kalimat yang aku dengar darinya malam itu.
Sambil mengingat kembali hari-hari yang sempat aku lewati bersamanya, aku mulai menikmati angin yang berhembus membelai rambut dan wajahku. Mataku mulai mengantuk dan aku mulai tertidur. Aku merasakan kehadiran Hyun Joong oppa saat angin berhembus di sekitarku. Aku mengingat kata-katanya yang ingin menjadi angin karena akan selalu ada di mana saja.
“Oppa, bogosipoyo…,” ucapku lirih dan perlahan menutup mata.
~ ~ ~
Hari ini, eomma memintaku untuk mengantarnya ke rumah sakit. Eomma ingin menjenguk chingudeul dekatnya yang sedang di rawat di sana. Awalnya aku tidak ingin pergi, tapi eomma mengancamku kalau aku tidak mau mengantarnya jatah uang sakuku selama seminggu akan dipotong. Aigoo…, itu benar-benar ancaman yang sangat tidak aku sukai.
Begitu sampai di ruang di mana chingeudul eommaku dirawat, kedua sahabat yang seperti sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun itu mulai bergosip. Padahal aku tahu sekali mereka baru tidak bertemu selama 3 hari. Aku mulai bosan karena aku seperti jadi kambing congek di sini. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain duduk diam. Aku putuskan untuk jalan-jalan sebentar di sekitar rumah sakit untuk menghilangkan kejenuhanku.
“Hyun Joong-ah….”
Tiba-tiba aku mendengar ada suara seorang yeoja yang memanggil nama Hyun Joong oppa. Suara itu berasal dari sebuah kamar yang baru saja aku lewati. Pintunya memang sedikit terbuka hingga membuatku bisa mendengar suara orang yang ada di dalam sana. Aku tahu pemilik nama Hyun Joong memang tak hanya satu saja. Tapi rasa penasaranku telah mengalahkan logikaku. Aku putuskan untuk diam-diam melihat ke dalam ruangan itu. Aku ingin tahu wajah Hyun Joong yang dimaksud yeoja itu.
DEG!
Aku melihat seorang yeoja yang sedang berpelukan dengan seorang namja. Aku mengenali siapa namja itu. Dia adalah Hyun Joong oppa! Jantungku serasa berhenti berdetak seketika. Nafasku menjadi sesak. Siapa yeoja cantik itu? Mengapa mereka berpelukan? Mengapa juga mereka ada di sini? Ada sesuatu yang terasa sakit sekali di dalam dada ini. Aku ingin berteriak. Aku ingin menangis. Aku ingin berlari. Aku ingin ini semua hanya mimpi.
Aku merasakan mataku yang mulai dibasahi air mata yang terus menganak sungai di pipiku. Aku ingin segera berlari, tapi kakiku seperti terpaku pada pijakanku. Tak mau bergerak.
“Hye won-ssi?”
Pikiranku tersadar ketika aku mendengar suara seorang namja yang tak asing lagi di telingaku. Namja itu ternyata Hyun Joong oppa yang sudah menyadari kehadiranku di sana. Aku melihatnya terkejut melihatku berada di depan pintu. Saat aku bertemu mata dengan Hyun Joong oppa, aku baru bisa menggerakkan kakiku. Aku pun berlari sekencangku bisa. Tangiskupun semakin menjadi tanpa tertahankan lagi.
Aku baru berhenti berlari saat aku tiba di taman rumah sakit. Kakiku sudah tak mampu berlari lebih jauh lagi. Hyun Joong oppa juga tak mungkin mengejarku seperti yang terlintas dipikiranku tadi. Aku bukanlah siapa-siapanya, jadi tak ada alasan baginya untuk melakukan itu. Susah payah aku mencoba mengatur nafasku yang masih memburu dan menghentikan tangisku. Belum sempat semuanya itu aku berhasil lakukan dengan baik, tiba-tiba aku mendengar seorang namja memanggil namaku.
“Hye won-ah.”
Tanpa berbalik karena aku sudah mengenal jelas suara itu, aku ingin sekali segera kabur dari tempat itu, tapi Hyun Joong oppa lebih cepat dari yang kukira. Ia segera menangkap tanganku dan mendekatkanku padanya. Ia menggenggam erat tanganku namun tetap lembut tanpa membalikku menghadapnya. Aku rasa oppa mengerti bahwa aku tak ingin ia melihatku dalam keadaan menangis seperti ini. aku berusaha melepas genggaman tangannya, tapi ia semakin menarikku mendekat padanya
“Jebal ddeonagajima! Sarangheo, Hye Won-ssi,” bisiknya lembut yang masih bisa kudengar dengan jelas.
Leherku serasa semakin tercekat. Tak ada satupun kalimat yang mampu aku ucapkan. Air mataku semakin deras mengucur. Hyun joong oppa melepas genggamannya dan mulai melingkarkan tangannya di pundakku. Tubuhnya yang tinggi seakan menenggelamkanku dalam pelukan kecilnya. Ia menyandarkan dagunya di kepalaku dan mulai berkata lagi,
“Miane… Miane, Hye woon’ssi…. Miane…,” ucap Hyun Joong oppa dengan suara yang terdengar bergetar. “Jeongmal miane….”
Terlalu banyak kata maaf yang aku dengar darinya. Aku sudah tidak tahan. Aku sadar aku memang tidak bisa jauh darimu oppa. Aku tidak bisa menolakmu lagi. Jeongmal sarangeo oppa. Sarange…. Kataku dalam hati yang sama sekali tak bisa aku lontarkan langsung padanya karena leherku masih seperti tercekat tangisku. Akupun berbalik dan memeluk Hyun Joong oppa erat. Aku tenggelamkan wajahku ke dadanya yang bidang. Aku menangis sejadinya seperti anak kecil.
“Tadi oppa bilang apa?” tanyaku kemudian setelah aku menangis sepuasnya meski sedikit tersendat-sendat.
“Miandheo….”
“Ani…. Bukan yang itu,” sanggahku sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Hyun Joong oppa tersenyum melihat sikapku yang seperti anak kecil. Aku yakin dia pasti mengerti maksudku.
“Sarang__handago…,” jawab Hyun Joong oppa kemudian sembari menghapus air mataku dengan ibu jarinya.
“Na do sarange oppa,” ucapku tanpa banyak pikir lagi.
Senyum lebar pun kini menghiasi wajahku dan Hyun Joong oppa. Aku peluk lagi Hyun Joong oppa dengan erat karena aku masih sangat merindukannya.
~ ~ ~
@Taman Belakang Kampus (jgn bosan ya reader krn di ff ni banyak adegan di taman belakang kampusnya.hehehe…)

Tempat ini telah menjadi tempat favoritku dan Hyun Joong oppa. Karena pertemuan pertama kami itu di sini. Kedekatan kamipun berkembang di tempat ini. Kami sering menghabiskan waktu di sini hanya sekedar untuk bercerita, bercanda, tidur siang, menikmati langit biru dan angin yang berhembus menyejukkan, atau juga membaca komik. Tempat ini memang sangat nyaman sekali. Jarang ada orang yang melintasi tempat ini, jadi tidur siang kami selalu sukses. Hehehehe….
Oh,iya. Soal yeoja yang aku lihat berpelukan dengan Hyun joong oppa hari itu ternyata adalah nuuna-nya. Oppa bilang hari itu nuunanya baru mau keluar dari rumah sakit. Ternyata apa yang terlihat mata itu belum tentu benar, ya? ^^ lalu masalah kenapa ia menghilang selama sebulan itu juga karena dia terlalu sibuk merawat nuunanya.
“Miane, oppa,” ucapku sembari tetap menatap langit.
“Wae?” tanya Hyun Joong oppa terkejut mendengar ucapanku.
Oppa yang awalnya berbaring di sampingku langsung bangun.
“Aku kira oppa sudah mempermainkanku karena tiba-tiba oppa menghilang setelah mencuri ciuman pertamaku.”
“Mwo? Ciuman pertamamu?”
“Ne,”’ jawabku sedikit malu.
“Jeongmal?”
“Ye.”
“Aku rasa itu bukan ciuman pertamamu.”
“Mwo? Apa maksud oppa dengan bukan?” tanyaku penasaran.
Kini giliranku yang bangun dan gantian Hyun Joong oppa yang kembali berbaring dengan santainya dan menyilangkan kedua lengannya di balik kepala agar ia bisa jadikan bantal. Kulihat Hyun Joong oppa tersenyum jahil. Itu membuatku sangat curiga.
“Oppa, wae?” tanyaku dengan tak sabar. “Wae oppa mengatakan seperti itu?”
“Miane…,” jawabnya singkat.
Itu ucapan maaf yang aneh untukku. Karena Hyun Joong oppa mengucapkannya masih dengan tersenyum jahil.
“Mia…. __ Wae oppa? Kenapa minta maaf?” tanyaku yang masih tak mengerti.
“Karena tanpa kamu sadari dan ijin darimu, aku pernah menciummu saat kau tertidur di sampingku. Mian, Hye won jagiya.”
“Mwo?! Oppa jahat sekali, sih! Kenapa mencium orang sembarangan dan tanpa ijin hah?”
“Hahahaha…miane… jeongmal miane…,” ucapnya sembari tersenyum manis.
Kali ini senyum tulus yang ia keluarkan. Membuatku luluh tapi tak cukup meredam rasa kesalku.
“Oppa jahat!” seruku sembari memukuli Hyun Joong oppa tak terlalu keras.
Walau aku pukuli, Hyun Joong oppa malah tertawa terbahak-bahak seperti orang yang kegelian karena digelitiki. Aku jadi makin kesal dan meneruskan tinjuanku ke lengannya sebelum akhirnya Hyun Joong oppa menangkap tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku terjatuh di atas dadanya. Wajah kami menjadi sangat dekat. Hyun joong oppa menatap dalam mataku begitu pula denganku. Lalu sejurus kemudian oppa semakin mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku.
Ternyata hari itu saat aku kira aku bermimpi dicium Hyun Joong oppa bukanlah sebuah mimpi. Tapi itu adalah sebuah kenyataan. Omo….. >.<
~ ~ ~
@Taman Belakang Kampus(lagi?! Hahaha…iya lagi. Mian..bow 90°)
Hari seperti biasanya pula kami berbaring sambil menatap langit.
“Oppa, mau berjanji bahwa kau takkan tiba-tiba menghilang lagi seperti dulu?” pintaku padanya.
Hyun joong oppa hanya terdiam. Tak lama kemudian aku melihatnya tersenyuman simpul yang langsung aku artikan sebagai jawaban ‘ya’.
“Oppa tidak menjawabnya tapi malah tersenyum seperti itu. Jadi aku anggap oppa menjawab ya. Dan aku tidak akan memaafkan oppa kalau tiba-tiba oppa menghilang lagi seperti dulu. Lihat saja! Aku akan menghukummu jika sampai aku menemukanmu. Karena aku pasti akan dengan mudah menemukanmu.”
“Kau yeojachingu yang paling galak ya ternyata,” ucap Hyun joong oppa begitu mendengar petisiku sambil tertawa.
Tangannya meraih kepalaku dan mendekatkannya ke pundaknya. Hyun joong oppa pun mulai membelai rambutku lembut. Dan aku hanya tersenyum bahagia menikmati kebersamaan ini yang aku harap bertahan untuk selamanya. ^^
“Jika suatu saat nanti aku tidak bisa lagi di sisimu….”
“Andwae…. Oppa akan dan harus selalu ada di sisiku!” ucapku memutus kalimat Hyun Joong oppa. Melihat ulahku, oppa tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumnya tak dapat aku artikan.
“Ne…. tapi kita tidak pernah tau bagaimana hidup berjalan. Aku hanya ingin berandai-andai jika suatu saat itu terjadi dan kau_jagiya yang palingku sayangi ini merindukanku, rasakanlah angin yang berhembus. Dan di situlah aku akan hadir di sisimu untuk membantumu melepas rindu. Aku ingin kau, Hye won-ah, selalu mengingatku yang pernah ada dalam hidupmu. Dan ketahuilah, aku akan tetap selalu ada di sisimu saat kau tak melihatku. Karena kau tau kenapa?”
“Ani…. Aku tidak tau dan tidak mau tau. Jadi jangan menanyakannya lagi. Aku tidak mau dengar. Sudah cukup kata-kata oppa barusan. Itu membuatku takut. Arratchi?”
Aku merasakan mataku yang mulai memburam karena air mata yang telah menumpuk di kedua mataku. Entah kenapa aku jadi sangat takut mendengar apa yang oppa katakan barusan padaku. Hyun joong oppa yang sadar apa yang kurasakanpun mengecup keningku dengan lembut. Aku tahu ia mencoba menenangkan hatiku dan apa yang ia lakukan memang sangat membantuku saat ini.
“Oppa, tidak boleh pergi. Oppa akan selalu di sampingku. Aku yakin,” ucapku padanya dengan suara yang bergetar.
“Ne. Saranghe, Hye won-ah…..”
“Na do saranghe, oppa….”
~ ~ ~
Ketakutanku saat Hyun Joong oppa mengatakan tentang jauh dariku ternyata benar. Sudah sebulan lebih ini lagi-lagi ia menghilang entah ke mana. Ponselnya tak bisa lagiku hubungi. Aku tak kehabisan akal karena setelah kami jadian, Hyun Joong oppa pernah mengajakku ke rumahnya dan mengenalkanku pada nuuna-nya, Gaayoon oenie. Jadi aku putuskan untuk langsung mencarinya ke rumah dan yang membukakan pintu adalah Gaayoon oenie. Anehnya, Gaayoon oenie yang biasanya ramah padaku, tiba-tiba berubah jadi sangat jutek. Saat aku berusaha tanya tentang keberadaan Hyun Joong oppa ia malah mengusirku dengan kasar dan memintaku jangan mencari Hyun Joong oppa lagi. Saat itu, aku memang menurutinya. Aku pulang. Tapi aku tak pernah mau menyerah. Rasa rindu dan penuh tanda tanya dalam benakku mengalahkan logika berpikirku. Setiap hari aku pergi ke rumah Hyun Joong oppa. Aku menunggu di depan pintu gerbang rumahnya. Berharap ia akan menunjukkan wajahnya. Tapi sejak aku mengunjungi rumahnya dan bertemu dengan Gaayoon oenie hari itu, aku tak pernah melihat Gaayoon oenie lagi di rumah itu. Bahkan rumah Hyun Joong oppa terkesan menjadi rumah yang tak berpenghuni lagi. Tak ada tanda-tanda aktifitas kehidupan di sana.
Aku semakin bingung, penasaran, sekaligus sedih. Otakku tak mampu berpikir lebih dari ini lagi. Karena ini yang hanya aku bisa lakukan sekarang. Eomma, appa, dan Seohyun jadi cemas melihat keadaanku yang semakin hari semakin kacau. Tapi aku benar-benar tak bisa berhenti memikirkan Hyun Joong oppa. Mereka berusaha menasehatiku dan membuatku bahagia, tapi aku sama sekali tak bisa merasakan kebahagiaan itu lagi. Seohyun juga jadi sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi padaku. Ia jadi sering mengikuti kemanapun aku pergi. Termasuk saat aku menunggu kedatangan Joong oppa di depan rumahnya.
“Hye won’ah, ayo pulang. Ini sudah malam. Nanti kau sakit. Jadi besok kita tak bisa lagi datang ke sinikan? Kacca!” ajak Seohyun sembari menggandeng tanganku.
“Ne,” jawabku singkat. Aku mengikuti saja langkah Seohyun menuntunku.
~ ~ ~
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku sedang berada di depan pintu gerbang rumah Hyun Joong oppa. Cuaca yang dingin tak pernah menyurutkanku untuk terus menunggunya di sini. Hari ini aku menunggu sendiri tanpa kehadiran Seohyun yang sejak beberapa hari yang lalu terus menemaniku. Tadi pagi aku menelponnya dan memaksanya untuk tidak menemaniku. Aku tidak ingin merepotkannya sama sekali.
“Kepalaku pusing sekali,” keluhku sembari menekan-nekan keningku.
Tak lama kemudian aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungku. Saatku coba merabanya, ternyata hidungku mengeluarkan darah. Pantas saja aku merasa pusing sekali. Aku mengambil beberapa lembar tisu dari saku jaketku. Kudongakkan kepala sembari melap darah yang telah mengucur dari hidungku itu. Momseori chikae niga bogo shipeunde, oppa…, ucapku dalam hati ketika wajah Hyun Joong oppa tiba-tiba melintas dalam benakku.
Baby let me love ya love ya love ya….
Tiba-tiba ponselku berdering. Akupun berusaha meraihnya dari dalam saku jaketku. Mataku terbelalak tak percaya bahkan ingin menangis saat aku membaca tulisan di layar ponselku ‘Hyun Joong oppa memanggil’. Perasaan kesal sekaligus senang tercampur jadi satu. Sembari mencoba menenangkan perasaanku, tak ingin berlama-lama lagi aku memencet tombol untuk menerima panggilan.
“Yeobseo, oppa…,” ucapku yang kubuat agak ketus. _____”O, Gaayoon oenie?”
Tak lama kemudian aku sudah menjatuhkan ponselku. Kepalaku menjadi pening tak karuan. Kakiku melemas. Rasa-rasanya kakiku sudah tak kuat lagi untu menopang tubuhku. Tapi takku biarkan tubuhku terjatuh. Aku kuatkan kakiku untuk melangkah pergi perlahan yang semakin lama berubah menjadi langkah yang semakin cepat dan akhirnya akupun mampu berlari secepat mungkin menuju tempat di mana Hyun Joong oppa berada meski dengan air mata yang sudah mengucur deras.
~ ~ ~
Aku sudah berada di depan pintu berwarna putih bertuliskan angka 501. Di dalam sana, ada Hyun Joong oppa. Aku tahu itu dengan pasti. Tanganku semakin bergetar saat aku pegang gagang pintu itu. Aku harap mataku yang sembab karena menangis sepanjang perjalanan tadi sudah tak terlihat lagi. Karena sebelum berada di depan ruangan ini, aku sudah menyempatkan diri untuk mencuci mukaku. Aku harus tersenyum. Apapun yang terjadi aku harus tersenyum.

“Kau pasti bisa Choi Hye Won!” kataku memberi semangat pada diri sendiri.
Perlahan aku mulai membuka pintu itu. Aku mulai memasuki ruangan yang di dominasi warna putih bersih.
“Annyeongha_,” ucapan salamku pada Gaayoon oenie terputus saat aku menyadari keadaan ruangan itu.
Aku tercengang melihat keadaan ruangan itu yang sungguh di luar dugaanku. Hampir di setiap tembok dipenuhi dengan foto-fotoku dalam berbagai ekspresi. Saat ini, air mataku nyaris saja tertumpah. Tapi aku harus manahannya. Harus!
“Kemarilah, Hye won’ssi,” ajak Gaayoon oenie sembari menggandengku. Ia sadar bahwa saat ini aku tengah syok.
Lagi-lagi kakiku melemas saat aku melihat Hyun Joong oppa yang tengah terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Rasa sakit yang benar-benar hebatpun langsung menjalar ke tubuhku ketika melihat kondisi Hyun Joong oppa yang seperti itu. Seakan-akan aku mampu merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
Gaayoon oenie menuntunku mendekati namjachinguku yang palingku sayangi itu. Lalu ia memintaku duduk di kursi yang berada di samping kasur Hyun Joong oppa.
“Dia sudah menunggumu lama. Meski ia tak mengatakannya, aku tahu itulah yang paling ia inginkan selama ini,” ucap Gaayoon oenie sambil mengelus-elus pundakku.
“Miandheo…. Hari itu aku sudah dengan kasar mengusirmu, Hye won’ssi. Saat itu sebenarnya aku ingin menceritakan tentang semua kebenaran ini, tapi aku ingat bahwa Hyun Joong melarangku mengatakannya padamu. Dia takut kau akan sangat sedih melihat keadaannya yang seperti ini. Karena itu dia menghilang dari kehidupanmu secara tiba-tiba agar kau bisa membencinya lalu melupakannya,” jelas Gaayoon oenie. Setelah menjelaskannya, Gaayoon oenie keluar dan membiarkanku berdua dengan oppa.
“Oppa…,” ucapku lirih sembari menggenggam tangan Hyun Joong oppa yang dingin.
Rasanya sangat tak tega dan sakit melihat kondisinya yang seperti itu. Air mataku nyaris tumpah sebelum akhirnya aku mendengar suara yang terdengar sangat lemah.
“Hye won…. Hye won-ah…. Hye won….”
Hyun Joong oppa memanggilku? Iya! Dia memanggilku! Itu suaranya!
“Oppa, bangunlah. Ini aku. Aku ada di sini sekarang,” ucapku dengan antusias.
Aku melihat Hyun Joong oppa membuka matanya perlahan. Ia menatap langit-langit kamar terlebih dahulu lalu melayangkan pandangannya padaku. Tatapannya begitu lemah.
“Hye won?” tanyanya lirih.
“Ne. Ini aku, oppa.”
“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Hyun Joong oppa dengan suara yang sangat lemah.
“Aku’kan sudah bilang aku akan menemukanmu dengan mudah.”
“Kau tak seharusnya di sini.”
“Sudah diamlah! Kau’kan sakit. Jangan bicara dulu!” perintahku dengan wajah yang sok galak sambil membenahi selimutnya.
Aku hanya ingin menyembunyikan kesedihanku dari oppa. Aku tidak ingin dia melihatku sedih ataupun menangis. Aku harus terlihat sebiasa mungkin.
“Aku tidak tau apa yang terjadi padamu Hye won. Jika kau mau, kau bisa menceritakannya padaku. Aku hanya ingin kau takkan pernah menangis lagi. Jika memang ada beban yang membuatmu ingin menangis, maka menangislah sekarang. Dan saat beban itu sudah menghilang, aku ingin melihatmu kembali lagi tersenyum. Kalau kau malu karena ada aku di sini, aku akan menutup mataku. Aku janji aku tidak akan coba-coba melihatnya. Lalu tersenyumlah selebar-lebarnya seperti ini. Lihatlah aku, Hye won-ah!” ucap Hyun Joong oppa mengutip kalimatku saat aku melihatnya menangis di biang lala dulu.
Leherku tercekat. Air mataku sudah di ujung mataku. Aku yakin jika aku mengedipkan mataku, air itu akan tumpah membasahi pipiku. Aku menatap wajah Hyun Joong oppa yang pucat. Ia sedang tersenyum padaku. Senyum miliknya yang sangatku sukai dan aku harap selalu bisaku lihat.
“Arraci? Karena senyummu itu seper….”
Karena oppa mengatakan apa yang aku katakan di hari itu, akupun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padaku waktu itu. Aku mengecup bibir Hyun Joong oppa sebelum ia menyelesaikan kalimatnya yang masih mengutip kata-kataku saat di biang lala meski dengan air mataku yang mulai mengucur.
“Seperti chun sa…,” oppa melanjutkan kalimatnya begitu aku tak lagi menciumnya.
Tangannya yang lemah mulai mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipiku. Ia masih tersenyum seperti tadi dan akupun tersenyum padanya.
“Itu sebagai hukuman untuk oppa karena telah menghilang, berbohong padaku, dan memotretku tanpa ijin. Arraseo?” ucapku kemudian.
“Ye. Miane….”
“Ani…. Aku tidak ingin mendengar oppa bilang maaf lagi padaku. Yang tadi adalah yang terakhir.”
“Ne.”
Seharian aku terus menemani Hyun Joong oppa. Oema, appa, dan Seohyun sudah aku beritahu tentang keberadaanku agar mereka tak khawatir. Aku juga mengabari mereka tentang Hyun Joong oppa yang ternyata mengidap leukimia. Karena lelah, aku pun tertidur sambil duduk dengan kepala di samping Hyun Joong oppa.
~ ~ ~
Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di rumah sakit. Kulihat Gaayoon oenie tidur dengan nyenyak di sofa. Begitu juga dengan Hyun Joong oppa. Aku mendekati Gaayoon oenie dan membenahi selimutnya yang sedikit melorot. Lalu aku mengganti bunga yang ada di atas meja samping tempat tidur oppa dengan mawar kuning segar yang aku bawa hari ini. Tak lupa, aku benahi juga selimut namjachingu tersayangku itu. Tapi tanpaku duga, Hyun Joong oppa sudah terbangun. Ia menggapai tanganku sebelum aku sempat pergi dari hadapannya.
“Oppa sudah bangun?”
“Ne. Aku menunggumu.”
“Wae? Oppa sudah sangat merindukanku, ya?” candaku.
“Ye. Gajima…,” ucapnya lemah.
“Ani…. Aku akan meninggalkan oppa. Karena aku ingin ke kamar kecil sebentar. Hehehe…,” candaku lagi sembari berlalu dari hadapan oppa.
Sepintas aku melihat Hyun Joong oppa tersenyum geli mendengar ucapanku barusan.
Saat di kamar kecil, tiba-tiba aku mendengar suara Hyun Joong oppa yang terbatuk-batuk. Akupun buru-buru keluar dan mendapati Gaayoon oenie sudah berteriak-teriak memanggil dokter sementara Hyun Joong oppa….dia batuk darah!
“Oppa!” seruku sambil berlari menghampirinya. “Oppa kenapa?!”
Oppa terus saja batuk hingga tak bisa menjawabku. Tak lama kemudian dokter dan 2 orang suster masuk ke dalam kamar. Mereka memintaku minggir agar mereka bisa memeriksa Hyun Joong oppa. Beberapa saat kemudian, aku sudah tak lagi mendengar batuk dari Hyun Joong oppa. Kini kulihat ia sudah tertidur pulas. Aku menjadi sedikit tenang. Tapi tidak lagi begitu melihat ekspresi sang dokter.
“Wae dokter?” tanya Gaayoon oenie mendahuluiku.
“Jongsoehamnida, Gaayoon’ssi…. Penyakit yang diderita Hyun joong’ssi semakin parah. Aku rasa dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi,” ucap dokter yang kemudian keluar dari kamar bersama 2 orang suster.
“Andwae,” ucapku begitu mendengar pernyataan dokter. “Andwae….”
Lemas. Aku benar-benar tak lagi bisa menopang tubuhku kali ini. Aku jatuh terduduk. Isi otakku serasa terkosongkan. Aku hanya ingin menangis dan semakin takut akan kehilangan Hyun Joong oppa. Aku tak mau itu sampai terjadi. Aku tidak ingin mempercayai bahwa sebentar lagi aku akan kehilangan dia. Aku tidak mau……. Air mataku lagi-lagi mengucur dengan deras.
~ ~ ~
Hyun Joong oppa menyadari ia tak bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Karena itu ia bersikeras minta untuk dikeluarkan dari rumah sakit. Menurutnya semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Karena cepat atau lambat, ia harus pergi. Dan aku sangat benci jika harus menerima kenyataan pahit itu.
Hari ini, oppa memintaku menemaninya untuk pergi ke tempat favorit kami di taman belakang kampus. Hari ini, Hyun Joong oppa terlihat tak terlalu pucat. Wajahnya nampak berseri-seri. Killer smilenya sungguh mampu menenangkan hatiku. Dan membuatku semakin tak ingin kehilangannya. Oppa berbaring sambil menggunakan pahaku sebagai bantalnya, sedangkan aku membelai-belai lembut rambut oppa yang lebat dan halus.
“Apa oppa hari ini senang?”
“Ne. Aku bahkan sangat senang.”
“Aku juga ikut senang mendengarnya. Oppa juga terlihat sangat sehat hari ini,” ucapku sambil tersenyum manis.
“Hye won-ah…. Miane….”
“Kenapa minta maaf lagi? Akukan sudah bilang kemarin itu ucapan maaf terakhir oppa,” ucapku kesal.
“Jeongmal miane…. Entah kenapa aku selalu ingin mengatakan itu padamu. Karena tak seharusnya dari awal aku egois untuk mendekatimu. Padahal aku sadar aku tak punya banyak waktu untuk hidup. Tapi aku terus memaksakannya. Hingga akhirnya aku tak bisa menahan lagi perasaanku saat melihatmu menangis di rumah sakit hari itu. Aku semakin benci pada diriku sendiri karena telah membuatmu terluka. Dan justru semakin membawamu masuk ke dalam luka itu meski aku telah mengutarakan perasaanku padamu. Miane…. Jeongmal miane, Hye won-ah….”
“Gwencana oppa…. Oppa tidak perlu minta maaf sampai sebanyak itu. Aku tak pernah menyesal karena pernah mengenal oppa. Justru aku sangat bahagia. Sampai detik ini dan untuk seterusnya aku akan selalu bahagia karena telah mengenal Oppa.”
“Gomawo, Hye won-ah…. Kalau begitu berjanjilah padaku.”
“Janji apa oppa?”
“Jangan menangis lagi.”
“Tergantung situasi.”
“Aku mau kamu janji tentang itu. Agar aku bisa pergi dengan te….”
Aku meletakkan jari telunjukku di bibir Hyun Joong oppa. Aku benar-benar tidak ingin mendengar kelanjutan dari kalimatnya itu.
“Aku akan sangat marah jika oppa mengatakan itu lagi. Arraseo? Sekarang aku mau janji bahwa aku tidak akan menangis lagi. Tapi jangan pernah mengatakan itu lagi. Puas?”
“Ne…,” jawab oppa sembari tersenyum simpul.
“Oppa, lihatlah! Hari ini langitnya cerah sekali. Secerah wajahmu,” ucapku sembari menunjuk ke langit.
“Ne.___ Hye won’ah….”
“Wae oppa?”
Tiba-tiba Hyun Joong oppa meraih kepalaku dan mendekatkan wajahku padanya. Ia pun mencium bibirku.
“Jeongmal saranghae, Hye won-ah,” ucap oppa kemudian sambil tersenyum sangat manis sekali.
“Na do jeongmal saranghae Hyun Joong oppa.”
“Hye won-ah, aku mengantuk sekali. Aku ingin tidur dulu, ya?”
“Ne, oppa. Tidurlah…,” jawabku meski saat mendengar oppa mengatakan bahwa ia ingin tidur ada sebuah perasaan takut yang hebat tiba-tiba saja menyerangku.
Kulihat Hyun Joong oppa telah menutup matanya. Dia sudah mulai tertidur, pikirku. Meski sedang tidur, ia tak melupakan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Aku terus-terusan mengamati wajahnya sambil tersenyum karena aku masih bisa menatapnya hingga hari ini. Terus dan terus. Lama dan semakin lama aku menatapnya. Perasaan takut yang tadi semakin membayangiku.
Aku membelai rambut oppa. Lalu aku menyentuh wajahnya perlahan merasakan setiap lekuk wajahnya. Dan aku kini sudah harus menghadapi kenyataan yang telah terjadi di hadapanku. Aku…aku sudah tak lagi bisa merasakan hembusan nafas Hyun Joong oppa seperti beberapa saat yang lalu. Senyum yang tadinya masih terkembang di bibirku semakin pudar. Dan aku pun mulai menangis. Air mataku sudah membasahi pipiku tanpa terasa. Aku memeluk Hyun Joong oppa sambil menangis tak bersuara. Aku memeluknya erat…. Sangat erat….
“Jeongmal saranghe oppa…. Saranghe…,” bisikku di telinganya. “Oppa….gajima! GAJIMA!!” pintaku dalam isak tangis. Meski aku tau semuanya sudah sia-sia.
~ ~ ~
Hari ini adalah hari tepat 1 tahun kematian Hyun Joong oppa. Setelah mengunjungi makamnya, aku pergi ke taman belakang kampus. Tempat di mana pertama kali dan terakhir kalinya aku berbicara dengan Hyun Joong oppa. Seperti kebiasaanku dulu saat bersama Hyun Joong oppa, aku berbaring di sana. Aku menatap langit biru yang cerah di hari ini. Lalu aku menutup mataku dan merasakan semilir angin yang berhembus di sekitarku. Aku selalu melakukannya. Karena aku selalu ingat kata-kata Hyun Joong oppa bahwa ia ingin menjadi angin. Karena katanya angin selalu ada. Jadi aku selalu bisa merasakan kehadirannya di sampingku untuk melepas rindu. Dan itulah yang aku juga lakukan hari ini seperti waktu-waktu yang aku lewati tanpanya setahun ini. Aku mencoba merasakan kehadirannya saat angin berhembus membelai wajahku. Ya…, dan itulah yang aku rasakan saat ini. Aku merasakan kehadirannya.
Saat aku membuka mataku, aku seperti melihat Hyun Joong oppa yang berbaring di sampingku seperti dulu. Aku bias melihatnya dengan jelas berbaring di sampingku sambil menatapku dengan senyuman manisnya.
“Jeongmal saranghe…,” bisik Hyun Joong oppa padaku.
“Na do jeongmal saranghe oppa….”

 the end